Sebanyak 54 persen menganggap penting memiliki rencana warisan yang jelas untuk menghindari kebingungan atau perselisihan, sementara 51 persen menekankan perlunya membangun kekayaan yang cukup bagi generasi berikutnya.
Lebih dari dua pertiga responden (68 persen) berharap kekayaan yang diwariskan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan jangka panjang, baik melalui investasi di aset keuangan, asuransi jiwa, maupun pengembangan usaha keluarga.
"Banyak keluarga belum siap menghadapi masa depan, meski memahami pentingnya rencana penerus usaha yang terstruktur. Ini menjadi peluang besar bagi pemilik usaha untuk memperkuat fondasi masa depan, namun banyak yang masih menghadapi risiko yang tidak perlu," kata Maika.
Sun Life juga menemukan adanya jurang generasi yang berpotensi menghambat keberlanjutan bisnis keluarga. Hanya 40 persen pemilik usaha yang yakin generasi berikutnya bersedia melanjutkan usaha. Di kalangan penerus keluarga yang tidak terlibat operasional, angkanya bahkan hanya 31 persen.
Alasan enggan mengambil alih usaha keluarga cukup beragam. Keinginan untuk tetap mandiri menjadi faktor terbesar (50 persen), disusul rasa takut menghadapi tanggung jawab (42 persen), kurangnya minat (28 persen), serta perbedaan nilai atau visi (27 persen).