"Terus ada tambahan Rp100 triliun in case masih diperlukan. Iya bisa (sampai Rp381 triliun)," katanya.
Juda menilai langkah tersebut penting untuk memastikan likuiditas perbankan tetap memadai di tengah tingginya permintaan kredit dari sektor riil. Ketersediaan likuiditas yang cukup diharapkan dapat mendorong perbankan tetap agresif dalam menyalurkan pembiayaan kepada dunia usaha dan masyarakat.
Menurutnya, apabila likuiditas perbankan mengetat, bank berpotensi menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit sehingga dapat menghambat ekspansi usaha dan penciptaan lapangan kerja.
Pemerintah pun berharap penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank anggota Himbara seperti Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BSI dapat menopang pertumbuhan kredit nasional agar tetap berada pada level dua digit hingga akhir tahun.
"Agar bank bisa menyalurkan kredit dan diperkirakan kemarin di Mei kredit tumbuh 11,5%. Kami harapkan pertumbuhan kredit juga masih double digit dalam bulan-bulan ke depan. Oleh sebab itu likuiditas memang benar-benar harus tetap terjaga di perbankan," pungkas Juda.
(Shifa Nurhaliza Putri)