Meskipun terdapat pemangkasan anggaran untuk efisiensi, BGN berikhtiar menjaga efektivitas program dengan memprioritaskan intervensi gizi pada sasaran utama, yakni peserta didik di lembaga pendidikan serta kelompok 3P (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita).
Dari sisi struktur belanja, anggaran BGN 2027 terbagi menjadi dua fokus utama, yakni Program Pemenuhan Gizi Nasional sebesar Rp232,87 triliun (96,95 persen) dan Program Dukungan Manajemen sebesar Rp7,33 triliun (3,05 persen).
“Dari besar anggaran BGN ini, 97 persen kira-kira hampir itu kemudian dikonversi menjadi makanan, sementara 3 persennya adalah dukungan manajemen,” jelas dia.
Lebih detail, dari porsi Program Pemenuhan Gizi Nasional sebesar Rp232,87 triliun, dana sebesar Rp232,50 triliun (99,84 persen) langsung dialokasikan untuk pelaksanaan program MBG. Sementara sisanya, yaitu Rp373 miliar, difokuskan pada kegiatan non-teknis pendukung.
“Sisanya, Rp373 miliar dialokasikan untuk kegiatan non-teknis MBG pemenuhan gizi seperti standarisasi dapur SPPG, pelatihan petugas penyaji makanan, pemantauan kualitas, sehingga menjamin mutu dan keamanan di seluruh wilayah kerja. Dengan komposisi ini, BGN sesungguhnya membangun bukan hanya program pemberian makanan, tapi sebuah ekosistem pemenuhan gizi nasional yang menyeluruh,” tegas Sudaryono.