Menurutnya, kehadiran Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang belum lama diresmikan bakal menjadi motor untuk Indonesia mencapai kemandirian dan kedaulatan energi. Kilang tersebut ditargetkan mampu memproduksi sekitar 5,8 juta KL. Sehingga impor BBM dari yang sebelumnya berkisar di angka 24-25 juta KL, bisa dikurangi menjadi 19 juta di 2026.
"Jujur saya katakan, ini by design dibuat untuk kita bergantung kepada impor, kalau ditanya menteri siapa yang anti impor, saya," kata Bahlil.
"Maka apa yang saya lakukan, untuk RON 92, 95, dan 98, kita segera mengurangi impor, dan tahun 2027 tidak boleh kita impor lagi. Saya sudah minta Pertamina, saya pimpin rapat sampai jam 2 malam untuk mampu memproduksi sendiri," ujarnya.
Bahlil menyebutkan pemanfaatan etanol merupakan upaya pemerintah untuk melakukan substitusi penggunaan BBM impor. Meski demikian, pemerintah juga masih perlu untuk meningkatkan produksi etanol di dalam negeri sebagai bahan baku pembuatan E10.
"Bicara kedaulatan, kedaulatan itu tidak boleh asing mengintervensi kita, kalau bicara kedaulatan tapi masih berpikir asing, meninggal saja kita semua, Pak, dan saya tidak mau jadi Menteri ESDM diatur oleh asing," ujar Bahlil.
(Dhera Arizona)