sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bahlil Mengaku Tak Suka Impor Karena Rawan Praktik Rente

Economics editor Iqbal Dwi Purnama
25/06/2026 14:55 WIB
Menurut Bahlil, dirinya tidak menyukai skema impor untuk pengadaan dan pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri.
Bahlil Mengaku Tak Suka Impor Karena Rawan Praktik Rente (FOTO:Dok Ist)
Bahlil Mengaku Tak Suka Impor Karena Rawan Praktik Rente (FOTO:Dok Ist)

Pada 2021, produksi bensin domestik mencapai 14,59 juta kiloliter, sementara impor sebesar 18,31 juta kiloliter. Memasuki 2025, kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 37,3 juta kiloliter, dengan produksi hanya 14,27 juta kiloliter dan impor meningkat menjadi 23,03 juta kiloliter.

Tren ini berlanjut hingga 2030, ketika impor diproyeksikan mencapai 27,83 juta kiloliter, hampir dua kali lipat dibandingkan produksi domestik yang tetap sekitar 14,27 juta kiloliter. Upaya pemerintah untuk menekan impor tersebut dengan mencampurkan BBM dengan etanol, yang kemudian disebut E10. 

"Jadi, cara untuk membuat tidak ada lagi kecurigaan adalah stop impor. Makanya produksi dalam negeri harus ditingkatkan," kata Bahlil. 

Ia mengaku, ketika mandatory bahan bakar campuran etanol sampai dengan angka 20 persen, maka diproyeksikan impor Indonesia berkurang hingga 4 juta kilo liter per tahun untuk pemenuhan BBM di dalam negeri. 

Bahlil mengatakan, B50 yang akan diluncurkan pada Juli mendatang, maka Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor bahan bakar jenis solar. Sebab sudah mampu dipenuhi dari dalam negeri, lewat campuran bahan bakar nabati seperti CPO (Crude Palm Oil).

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement