AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Bank Indonesia Diprediksi Naikkan Suku Bunga di Akhir 2022

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Selasa, 11 Januari 2022 06:37 WIB
DBS Group Research memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun 2022.
DBS Group Research memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun 2022. (Foto: MNC Media)
DBS Group Research memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun 2022. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - DBS Group Research memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun 2022.Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao mengatakan, pemerintah serta pengambil kebijakan kemungkinan akan memantau perkembangan dan mempertahankan aset domestik dari dampak negatif perubahan kebijakan global.

Dalam Rapat Tahunan 2021, Bank Indonesia mengisyaratkan bahwa kebijakan akan mengarah pada ‘pro-kestabilan’ pada 2022, mencakup stabilitas harga, stabilitas rupiah serta pasar keuangan, terutama sebagai tanggapan terhadap peningkatan risiko gejolak lebih besar di pasar global. 

Setiap pergeseran menuju normalisasi kebijakan kemungkinan besar akan condong ke langkah-langkah manajemen likuiditas pada 2022 sebelum kenaikan tingkat suku bunga menyeluruh," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (10/1/2022).

Menurut dia, hal ini mungkin ditandai dengan pergeseran bauran jangka waktu pinjaman untuk operasi likuiditas dari jangka pendek ke jangka panjang, juga tergantung pada laju peningkatan pertumbuhan kredit, dengan yang terakhir terbukti menjadi pilihan yang lebih tahan lama untuk mengatasi masalah kelebihan likuiditas. Ini kemungkinan akan diikuti oleh kenaikan rasio cadangan minimum.

BI telah meletakkan dasar untuk perpanjangan pengaturan 'pembagian beban' untuk program pembiayaan pemerintah pada 2022, dan dengan demikian kemungkinan pembelian obligasi dapat diabaikan. Mengingat kondisi saat ini, program pinjaman 2022 juga cenderung lebih kecil dari yang dianggarkan, dengan asumsi percepatan positif kinerja fiskal berlanjut ke tahun 2022.

Unsur basis dan prospek penyesuaian harga bahan bakar/utilitas lokal diharapkan dapat mengangkat inflasi ke target BI. Penurunan pertumbuhan kredit juga telah berhenti dan kembali ke zona positif pada paruh kedua 2021, dibantu oleh penurunan suku bunga pinjaman serta perputaran kegiatan ekonomi. Kenaikan bertahap dalam suku bunga kebijakan (7-day repo rate) akan terjadi pada tahun 2022.

"Perkiraan kami lebih condong ke jalur konservatif, yaitu kenaikan sebesar 25bp pada akhir 2022, kemudian sebesar 75bps pada 2023, untuk mempertahankan nilai tukar dan memastikan stabilitas keuangan. Namun, apabila Bank Sentral AS lebih agresif, maka BI mungkin akan meningkatkan suku bunga acuannya 25bp lebih besar dari skenario dasar kami pada paruh kedua 2022," jelasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD