sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bantah Rupiah Hancur, Purbaya: Depresiasi saat Perang Hanya 0,3 Persen

Economics editor Anggie Ariesta
15/03/2026 13:45 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis narasi negatif yang menyebut nilai tukar Rupiah terpuruk akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Bantah Rupiah Hancur, Purbaya: Depresiasi saat Perang Hanya 0,3 Persen. (Foto: Inews Media Group)
Bantah Rupiah Hancur, Purbaya: Depresiasi saat Perang Hanya 0,3 Persen. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis narasi negatif yang menyebut nilai tukar Rupiah terpuruk akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. 

Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Purbaya menegaskan bahwa daya tahan mata uang Garuda terhadap guncangan global saat ini masih sangat solid jika merujuk pada data fundamental.

Purbaya memaparkan bahwa berdasarkan data historis, setiap kali terjadi konflik peperangan, pelemahan Rupiah tergolong sangat minim dan tidak sedramatis yang dikhawatirkan beberapa pihak.

"Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing mengganggu semuanya. Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau kita lihat betul, itu setiap perang rupiah hanya terdepresiasi sebesar 0,3. Jadi sebetulnya bagus daya tahan kita. Yang real, yang pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tapi yang yang nggak punya duit kali Pak yang jelek-jelekin," ujar Purbaya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, dikutip Minggu (15/3/2026).

Purbaya menjelaskan bahwa penilaian kondisi ekonomi seharusnya merujuk pada instrumen risiko yang nyata. Ia mencontohkan Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun yang tetap stabil serta selisih (spread) imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) terhadap US Treasury yang hanya bergerak tipis.

"Terus kalau kita lihat yang CDS, IDR 5 year, 5 tahun, masih relatif stabil. Gambar yang kanan atas Pak, itu adalah spread dari SBN terhadap treasury," jelas Purbaya kepada Presiden.

 Artinya asing masih percaya ke kita. Yang domestik aja nggak percaya Pak. Terus kalau kita lihat, ya bukan domestik aja. Pengamat domestik yang nggak percaya," ujarnya.

Kepercayaan investor global juga dibuktikan dengan data arus modal masuk (inflow). Meski terdapat aliran keluar (outflow) pada instrumen SBN sebesar Rp0,7 triliun di Maret, jumlah tersebut tertutup oleh aliran dana masuk yang jauh lebih besar pada instrumen lain.

Tercatat, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menarik dana sebesar Rp2,2 triliun, sementara pasar saham juga mencatatkan inflow sebesar Rp2,2 triliun.

"Jadi setelah goncang-goncang-goncang, di Maret sepertinya masih masuk ke sini Pak. Artinya mereka percaya betul bahwa fondasi kita bagus. Ini kalau investor-investor yang asli seperti ini Pak, karena mereka taruh uang," pungkasnya.

Melalui data tersebut, Purbaya ingin meluruskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap resilien dan tidak terpengaruh secara destruktif oleh sentimen geopolitik, terutama bagi para pelaku pasar yang menanamkan modalnya secara riil di dalam negeri. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement