sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BI Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Tengah Memanasnya Konflik Global

Economics editor Iqbal Dwi Purnama
22/07/2026 16:02 WIB
BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9-5,7 persen.
BI Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Tengah Memanasnya Konflik Global (Foto: iNews Media Group)
BI Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Tengah Memanasnya Konflik Global (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9-5,7 persen di tengah memanasnya konflik geopolitik dan tekanan di pasar keuangan internasional. 

Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini ketahanan permintaan domestik serta bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran akan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

"Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen," kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI, Rabu (22/7/2026).

Perry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 masih ditopang kuat oleh permintaan domestik. Konsumsi pemerintah meningkat seiring berlanjutnya realisasi berbagai program prioritas nasional, percepatan belanja pemerintah, pembayaran gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN), serta penyaluran bantuan sosial kepada keluarga penerima manfaat.

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga berkat berbagai stimulus pemerintah, mulai dari bantuan pangan, potongan tarif transportasi, hingga program magang dan pelatihan vokasi nasional. 

Sementara itu, investasi masih didukung oleh pembangunan berbagai proyek yang masuk dalam Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN). Namun, Perry menilai investasi swasta masih perlu terus ditingkatkan agar mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.

Dari sisi eksternal, Bank Indonesia menilai kinerja ekspor perlu terus diperkuat untuk memanfaatkan tingginya harga komoditas global, meski prospek pertumbuhan ekonomi dunia masih melambat.

Secara sektoral, sejumlah lapangan usaha tetap mencatatkan pertumbuhan yang solid, terutama industri pengolahan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan yang ditopang oleh implementasi berbagai program pemerintah.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui bauran kebijakan yang diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong sumber-sumber pertumbuhan baru," tutur Perry.

Meski demikian, Perry mengingatkan bahwa tantangan global kembali meningkat setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026 yang mengganggu lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas dunia serta meningkatkan tekanan inflasi global.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 hanya mencapai sekitar 3,0 persen, sementara inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,5 persen. Situasi itu juga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Funds Rate) lebih cepat pada triwulan IV-2026, disertai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. 

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement