AALI
10125
ABBA
232
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1470
ACST
272
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
1165
ADMF
0
ADMG
167
ADRO
1195
AGAR
410
AGII
1100
AGRO
900
AGRO-R
0
AGRS
595
AHAP
71
AIMS
480
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3220
AKSI
0
ALDO
890
ALKA
238
ALMI
240
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/05/12 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
467.69
-0.91%
-4.29
IHSG
5921.08
-0.92%
-54.70
LQ45
879.63
-1%
-8.87
HSI
28013.81
0%
0.00
N225
28608.59
0%
0.00
NYSE
16355.62
0%
0.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,195
Emas
838,803 / gram

Budi Waseso: Tiga Tahun Saya Jadi Dirut, Tak Ada Impor Beras!

ECONOMICS
Suparjo Ramalan/Sindonews
Kamis, 25 Maret 2021 18:25 WIB
Dirut Bulog, Budi Waseso atau Buwas menyebut, selama tiga tahun memimpin bulog, persoalan yang ada di internal perusahaan tersebut cukup tertangani.
Budi Waseso: Tiga Tahun Saya Jadi Dirut, Tak Ada Impor Beras! (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Perum Bulog angkat bicara perihal pernyataan Wakil Ketua Komisi IV DPR, Dedi Mulyadi, perihal perusahaan gagal dalam tiga sektor pertanian. Ketiganya terkait dengan pemaksimalan hasil produksi beras yang berasal dari petani dalam negeri. 

Direktur utama (dirut) Bulog, Budi Waseso atau Buwas menyebut, selama tiga tahun dia menjabat sebagai dirut bulog, persoalan yang ada di internal perusahaan pelat merah itu cukup tertangani. Salah satunya perihal impor beras. Penanganan impor beras sendiri didasari pada keyakinan jika produksi petani cukup memenuhi kebutuhan atau cadangan beras pemerintah (CBP)  

"Tiga tahun selama saya menjadi dirut Bulog, ini tidak ada lagi impor beras. Tapi kita buktikan produksi beras dalam negeri itu cukup. Bahkan bermasalah sisa dari produksi impor, ini fakta," ujar Buwas dalam diskusi virtual, Kamis (25/3/2021). 

Untuk ketersediaan CBP, per hari ini stok beras yang tersedia di gudang Bulog tercatat 923,000 ton. Jumlah itu merupakan tambahan dari serapan beras petani yang dilakukan sebelumnya, dimana, tercatat sebanyak 800.000 ton. Artinya ada tambahan 123.00 ton beras.

Bulog terus melakukan penyerapan hasil panen dari petani. Bahkan, Buwas berencana akan mengunjungi salah satu daerah untuk melihat secara langsung proses panen yang dilakukan petani  

"Kita masih terus menyerap, hari ini terus sambil berjalan. Habis ini saya ke lapangan untuk melihat panen di suatu wilayah, saya ingin membuktikan sendiri bahwa produksi dalam negeri memang cukup. Produksi dari petani memang cukup. Saya memegang apa yang disampaikan oleh pihak Menteri Pertanian dan BPS," katanya. 

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS), stok beras dalam negeri masih aman dalam beberapa bulan ke depan atau pada Maret, April hingga Mei 2021. Periode tersebut merupakan masa panen raya. 

Dari data kedua lembaga negara itu, stok beras tercatat surplus. Dengan begitu, Buwas meyakini tidak ada persoalan masalah beras. Sebagai bukti, beras dibuat tidak hanya dibuat dari gabah tapi dari jagung dan singkong. 

"Ini sudah terbukti, kalau bicara beras, Indonesia Timur produksi sagu, kita produksi beras dari sagu. Ini sudah ada contohnya, sudah saya laboratoriumkan cuma belum saya publish. Ini wujud nyata saya ingin membantu terwujudnya kemandirian pangan dan kedaulatan pangan. Maka kita jangan seolah-olah begitu beras kurang, kita takut," kata Buwas.

Dari daya tampung, Bulog memiliki memiliki gudang di seluruh Indonesia dengan kemampuan menampung atau menyimpan beras sebesar 3,6 juta ton.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi menyebut, Bulog di tiga sektor. Pertama terkait dengan kemampuan menyerap gabah petani sehingga petani menjual hasil padinya ke tengkulak. Meski begitu, tengkulak tidak semuanya memiliki modal yang cukup. 

Bulog dinilai tidak maksimalnya menyerap gabah petani. Dimana, daya serap Bulog rendah, karena sering kali membeli beras di bawah tengkulak. Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp 4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp 3.800 per kilogram. Itu karena Bulog cukup hati-hati dalam membeli gabah. 

Kedua, perusahaan pelat merah itu juga dinilai tak mampu menjual beras. Argumentasi Dedi didasari pada masih banyaknya stok beras lama yang tak bisa terjual. 

Ketiga, Bulog tak memiliki gudang dengan teknologi memadai dalam penyimpanan beras. Akibatnya, beras yang disimpan di gudang tidak bisa bertahan lama sehingga mudah busuk. "Selama ini, Bulog menyimpan beras hanya dengan mengandalkan memakai valet, sehingga beras tidak bisa bertahan lama," ujar dia. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD