AALI
8900
ABBA
230
ABDA
7075
ABMM
845
ACES
1415
ACST
252
ACST-R
0
ADES
1915
ADHI
1005
ADMF
8250
ADMG
163
ADRO
1315
AGAR
422
AGII
1125
AGRO
1135
AGRO-R
0
AGRS
470
AHAP
68
AIMS
380
AIMS-W
0
AISA
238
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3200
AKSI
535
ALDO
930
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
382
Market Watch
Last updated : 2021/06/11 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
482.65
-0.44%
-2.14
IHSG
6095.50
-0.2%
-12.04
LQ45
901.64
-0.42%
-3.77
HSI
28842.13
0.36%
+103.25
N225
28948.73
-0.03%
-9.83
NYSE
0.00
-100%
-16620.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,188
Emas
866,552 / gram

Cek Antibodi Pasca Vaksin, Perlu Atau Mubazir?

ECONOMICS
Pradita Ananda/Okezone
Rabu, 12 Mei 2021 20:47 WIB
Sebetulnya orang yang sudah menerima vaksin tak perlu melakukan pemeriksaan antibodi.
Orang yang sudah menerima vaksin tak perlu melakukan pemeriksaan antibodi. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Sebagian masyarakat Indonesia mungkin memang masih diliputi keraguan terkait perlindungan yang diberikan oleh vaksin Covid-19 buatan Sinovac.

Dari data hasil kajian cepat dari Litbangkes Kementerian Kesehatan RI disebutkan bahwa tenaga kesehatan yang sudah mendapatkan vaksinasi Sinovac efektif dalam mencegah hingga 94 persen terkena Covid-19 bergejala pada hari ke-28 hingga ke-63 setelah dosis kedua. Vaksinasi juga efektif dalam mencegah sampai 98 persen kematian karena Covid-19 pada hari ke-28 hingga 63 hari setelah dosis kedua.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, dr.Siti Nadia Tarmizi hasil kajian cepat di atas membuktikan bahwa sebetulnya orang yang sudah menerima vaksin tak perlu melakukan pemeriksaan antibodi.

“Kajian ini membuktikan kita enggak perlu kok cek antibodi. Dari sini kita bisa melihat hasilnya pada kelompok tenaga kesehatan yang risiko tertularnya tinggi, bahwa pemeriksaan antibodi tidak menunjukkan  level proteksi itu rendah atau tinggi. Bisa dilihat secara umum level proteksi dari vaksin sudah kita dapatkan, bahkan capai 94 persen sisanya hanya 6 persen risiko kita bisa jadi sakit,” ujar dr.Siti Nadia Tarmizi dalam konferensi pers virtual, Rabu (12/5/2021).

Siti Nadia menegaskan, secara standarisasi internasional pemeriksaan antibodi pasca vaksinasi belum direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

“Mengukur antibodi itu maksudnya beda ya sama ukur antibodi yang di masyarakat. Pengukuran antibodi itu beda, lagipula dilakukan pasca vaksinasi itu belum jadi rekomendasi WHO. Belum ada kesepakatan untuk cut of point berapa angka antibodi yang memberikan proteksi,” tegas dr.Siti Nadia.

Sementara itu, dari data yang disampaikan oleh dr.Siti Nadia Tarmizi, sejauh ini dari program vaksinasi nasional yang sudah berjalan, diketahui sudah sebanyak 22,5 juta dosis vaksin Covid-19 yang diberikan pemerintah pusat melalui Kemenkes, meski bari sebanyak 8,8 juta orang yang sudah menerima vaksin dosis lengkap (dua kali suntik). (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD