sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

CEO Chevron Ungkap Kekurangan Pasokan Minyak Mulai Terlihat, Asia Paling Terdampak

Economics editor Febrina Ratna Iskana
05/05/2026 08:08 WIB
Chairman sekaligus CEO Chevron, Mike Wirth, mengatakan pada Senin (4/5/2026) bahwa kekurangan pasokan minyak secara fisik akan mulai muncul di seluruh dunia.
CEO Chevron Ungkap Kekurangan Pasokan Minyak Mulai Terlihat, Asia Paling Terdampak. (Foto: Dok. energynow.com)
CEO Chevron Ungkap Kekurangan Pasokan Minyak Mulai Terlihat, Asia Paling Terdampak. (Foto: Dok. energynow.com)

IDXChannel – Chairman sekaligus CEO Chevron, Mike Wirth, mengatakan pada Senin (4/5/2026) bahwa kekurangan pasokan minyak secara fisik akan mulai muncul di seluruh dunia. Itu karena penutupan Selat Hormuz, yang dilalui oleh 20 persen pasokan minyak mentah global.

Dia menyebut ekonomi akan mulai menyusut, pertama di Asia, karena permintaan menyesuaikan diri dengan pasokan yang berkurang karena selat tersebut masih ditutup akibat perang AS-Israel dengan Iran.

"Kita akan mulai melihat kekurangan fisik," kata Wirth selama diskusi yang disponsori oleh Milken Institute seperti dikutip dari Investing, Selasa (5/5/2026).

Dia mencatat bahwa kelebihan pasokan di pasar komersial, kapal tanker yang menjadi armada bayangan demi menghindari sanksi, dan cadangan strategis nasional sedang diserap pasar.

"Permintaan perlu bergerak untuk memenuhi pasokan. Ekonomi harus melambat,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia menilai Asia paling bergantung pada produksi dan kilang minyak negara-negara Timur Tengah, dengan Eropa kemungkinan akan terpengaruh selanjutnya.

Wirth mencatat bahwa Amerika Serikat, sebagai pengekspor minyak mentah, tidak akan terlalu terdampak hal tersebut dibandingkan bagian dunia lainnya. Tetapi pada akhirnya dampaknya juga akan dirasakan oleh AS.

Ia menunjukkan bahwa pengiriman minyak terakhir yang dijadwalkan dari Teluk Meksiko sedang dibongkar muat di Pelabuhan Long Beach, yang memasok Los Angeles dan California selatan.

Dia menyebut dampak keseluruhan dari penutupan Selat Hormuz berpotensi sebesar saat 1970-an. Pada 1973 dan 1979 terjadi lonjakan harga minyak drastic akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Dua gangguan pasokan besar pada dekade itu mengguncang perekonomian di seluruh dunia, menyebabkan penjatahan bahan bakar dan antrean panjang di pompa bensin.

Adapun pada saat ini, akibat penutupan Selat Hormuz, Spirit Airlines bangkrut pada akhir pekan lalu karena biaya bahan bakar jet melonjak di tengah pasokan yang lebih ketat.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement