Akibatnya, kata Bayu, jadwal penerbangan komersial juga ikut berkurang. Bahkan, penundaan penerbangan juga dapata membuat penumpukan penumpang pada terminal keberangkatan, sehingga menjadi lebih padat.
Untuk menyiasati dampak cuaca buruk ini, menurut Bayu, maskapai hanya bisa melakukan komunikasi persuasif kepada calon penumpang. Pasalnya, faktor cuaca menjadi dalam penerbangan menjadi hal yang tidak diprediksi dan dikendalikan secara cepat.
"Bagi penumpang juga harus memahami fenomena extreme weather ini apabila terjadi keterlambatan atau pembatalan," katanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia. Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, wilayah yang mencakup Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diperkirakan mengalami peningkatan intensitas hujan hingga akhir Januari 2026.
(Rahmat Fiansyah)