sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Danantara Bidik Nilai Ekonomi Pengembangan Data Center hingga Rp30 Triliun

Economics editor Rohman Wibowo
19/10/2026 19:23 WIB
Danantara ingin menggeser model bisnis dari sekadar menyewakan lahan menjadi penguasaan rantai nilai teknologi.
Danantara Bidik Nilai Ekonomi Pengembangan Data Center hingga Rp30 Triliun (Foto: iNews Media Group)
Danantara Bidik Nilai Ekonomi Pengembangan Data Center hingga Rp30 Triliun (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membidik nilai ekonomi lebih dari Rp30 triliun atau setara USD1,7 miliar dari pengembangan pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia. 

Danantara ingin menggeser model bisnis dari sekadar menyewakan lahan menjadi penguasaan rantai nilai teknologi yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi ekonomi domestik.

Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan, jika hanya menyewakan lahan untuk pembangunan pusat data berkapasitas 100 megawatt, nilai investasi yang masuk bisa mencapai USD3 miliar-USD4 miliar. Namun, pendapatan yang diperoleh Indonesia diperkirakan hanya sekitar USD100 juta-USD150 juta.

Sebaliknya, keterlibatan dalam pembangunan melalui kemitraan strategis hingga penguasaan teknologi chip dan pengendali berbasis AI berpotensi meningkatkan penerimaan menjadi USD1,5 miliar-USD1,7 miliar.

"Kalau kita hanya menyewakan lahan untuk setiap 100 megawatt data center, investasinya memang USD3 miliar sampai USD4 miliar, tetapi pendapatan kita hanya sekitar USD100 juta sampai USD150 juta. Namun, jika kita ikut membangun lewat kemitraan strategis hingga penguasaan chip dan pengendali berbasis AI, penerimaannya bisa melesat menjadi USD1,5 miliar hingga USD1,7 miliar," ujar Sigit dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Strategi tersebut akan menjadi salah satu fokus dalam Danantara Technology, Innovation, and Investment Forum (DTIIF) yang dijadwalkan berlangsung pada 26-28 Oktober 2026 di Jakarta. Forum ini diharapkan menjadi ajang realisasi kesepakatan investasi dan kemitraan teknologi internasional.

Danantara menyebut DTIIF akan dihadiri sedikitnya 1.500 peserta, termasuk 170 inovator global, lebih dari 100 pimpinan korporasi teknologi dunia, 60-70 pusat riset dan inovasi, serta lebih dari 50 perguruan tinggi. 

Sejumlah perusahaan teknologi global dari Silicon Valley hingga SpaceX dikabarkan turut ambil bagian, bersama peraih Nobel Ekonomi Peter Howitt.

Sigit menjelaskan, kebutuhan industri pusat data kini bergeser dari fasilitas komputasi skala besar konvensional (hyperscale) menuju infrastruktur yang mampu menopang beban kerja AI. Perubahan ini membuat penguasaan teknologi semikonduktor, cip, dan pengendali menjadi semakin penting.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Danantara telah menandatangani kerja sama dengan perusahaan teknologi asal Inggris, Arm. Kemitraan itu ditujukan untuk mendukung pengembangan enam sektor industri prioritas.

Danantara juga mengamankan aliansi teknologi semikonduktor untuk memenuhi kebutuhan cip dan pengendali. Menurut Sigit, waktu tunggu komponen tersebut di pasar global saat ini mencapai 16-48 bulan.

"Industri data center sangat sarat teknologi, dan kami sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan industri di Inggris, Arm, untuk mendukung pengembangan enam sektor industri prioritas. Kami juga mengamankan aliansi teknologi semikonduktor untuk kebutuhan cip dan pengendali yang saat ini antreannya di pasar global mencapai 16 hingga 48 bulan," katanya.

Dari sisi investasi, Danantara mengklaim penjajakan dengan sejumlah perusahaan teknologi global menunjukkan kemajuan. Sigit mengatakan, pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan perwakilan korporasi Silicon Valley yang rencananya akan direalisasikan dalam forum DTIIF.

"Dua minggu lalu saya bertemu dengan perwakilan korporasi Silicon Valley di Bali dan kami berhasil menyepakati transaksi luar biasa yang akan direalisasikan di forum DTIIF nanti," ujarnya.

Danantara saat ini memiliki program pengembangan pusat data dengan kapasitas sekitar 1 gigawatt. Sigit memperkirakan seluruh lahan yang disiapkan untuk pengembangan tersebut akan segera terisi seiring tingginya minat investor.

Meski demikian, pengembangan pusat data juga menghadapi tantangan terkait ketersediaan sumber daya dan lingkungan. Salah satunya polemik proyek pusat data di Jatiluhur, Jawa Barat, yang sempat dihentikan sementara akibat persoalan pasokan air baku dan tata ruang.

Menanggapi hal tersebut, Sigit mengatakan kebutuhan air untuk pusat data dapat dikelola melalui sistem sirkulasi. Di mana Danantara akan mencari solusi atas persoalan sosial dan teknis yang muncul dalam pelaksanaan proyek.

"Isu pendukung seperti penggunaan air sebenarnya bukan berarti airnya habis terpakai karena ada sistem sirkulasinya. Fokus utama kita adalah mendorong efek pengganda ekonomi di Indonesia, dan di setiap proyek pembangunan tentu ada dinamika sosial yang solusinya akan kami hadirkan," tutur dia.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement