IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir kuartal I-2026 mencatatkan defisit sebesar Rp240,1 triliun. Angka tersebut setara dengan 0,93 persen terhadap PDB.
Menkeu menegaskan bahwa angka defisit tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah yang sengaja mempercepat belanja sejak awal tahun guna mengoptimalkan dampak ekonomi.
Menurut Purbaya, masyarakat tidak perlu terkejut dengan posisi defisit di awal tahun ini karena anggaran memang dirancang untuk ekspansif sejak kuartal pertama.
"Dengan demikian, defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Jadi ketika ada defisit Bapak-Bapak Ibu-Ibu jangan kaget, memang anggaran kita didesain defisit. Kalau saya belanjakan sepanjang tahun kan harusnya di triwulan pertama sekarang lebih besar daripada tahun lalu defisitnya," ujar Purbaya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI, Senin (6/4/2026).
Berbeda dengan pola tahun-tahun sebelumnya di mana belanja seringkali menumpuk di akhir tahun, pada 2026 pemerintah berhasil mendorong penyerapan belanja hingga 21,2 persen dari total pagu APBN pada triwulan pertama. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata historis triwulan I yang biasanya hanya berada di kisaran 17 persen.
Realisasi belanja negara per Maret 2026 mencapai Rp815,0 triliun, atau tumbuh 31,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
"Kalau orang bertanya kenapa sekarang tumbuhnya cepat, karena memang kita begitu ingin sekali belanjanya bisa dibelanjakan merata atau hampir merata sepanjang tahun sehingga dampak ekonominya lebih signifikan dirasakan sepanjang tahun. Jadi strategi kita ini mulai berhasil, harusnya dampak ekonominya lebih bagus," kata Purbaya.