Sementara itu, nilai impor kumulatif mencapai USD61,30 miliar atau meningkat 10,05 persen yoy. Kenaikan impor terutama berasal dari nonmigas yang tumbuh 12,16 persen menjadi USD52,97 miliar, sedangkan impor migas turun tipis 1,72 persen menjadi USD8,33 miliar.
Berdasarkan penggunaannya, impor bahan baku/penolong masih mendominasi dengan nilai USD43,17 miliar atau naik 6,89 persen. Di sisi lain, impor barang modal mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 24,02 persen menjadi USD12,98 miliar, diikuti barang konsumsi yang naik 6,12 persen menjadi USD5,15 miliar.
China juga menjadi negara asal impor nonmigas terbesar dengan kontribusi 41,56 persen atau senilai USD22,02 miliar.
Adapun surplus nonmigas ditopang oleh sejumlah komoditas utama, antara lain lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD8,68 miliar, bahan bakar mineral USD6,22 miliar, besi dan baja USD4,29 miliar, nikel USD3,24 miliar, serta alas kaki USD1,49 miliar.
Kinerja ini mencerminkan daya saing produk manufaktur dan komoditas olahan Indonesia yang masih terjaga di tengah dinamika perdagangan global.
(Shifa Nurhaliza Putri)