sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Donald Trump Kritik Exxon dan Chevron usai Raup Untung Besar dari Perang AS-Iran

Economics editor Rahmat Fiansyah
04/08/2026 07:20 WIB
Presiden AS, Donald Trump mengkritik dua raksasa migas, ExxonMobil dan Chevron, karena dinilai meraup keuntungan terlalu besar dari tingginya harga BBM.
Presiden AS, Donald Trump mengkritik ExxonMobil dan Chevron, karena dinilai meraup keuntungan terlalu besar dari tingginya harga BBM. (Foto: AP)
Presiden AS, Donald Trump mengkritik ExxonMobil dan Chevron, karena dinilai meraup keuntungan terlalu besar dari tingginya harga BBM. (Foto: AP)

IDXChannel - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik dua raksasa migas, ExxonMobil dan Chevron, karena dinilai meraup keuntungan terlalu besar di tengah tingginya harga bahan bakar minyak (BBM). Trump mendesak kedua perusahaan untuk segera menurunkan harga BBM demi meringankan beban masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump beberapa hari setelah ExxonMobil dan Chevron melaporkan lonjakan laba pada kuartal II-2026 yang ditopang tingginya harga minyak akibat konflik Iran

"Saya tidak menyukainya. Chevron, terlalu banyak uang. ExxonMobil juga, terlalu banyak. Mereka seharusnya mengembalikan sebagian keuntungan itu kepada masyarakat," ujarnya dikutip dari Reuters, Selasa (4/8/2026).

Trump juga menyoroti CEO Chevron Mike Wirth yang dinilai tidak mengakui peran pemerintahannya dalam mendukung industri migas AS. Melalui akun Truth Social, Trump mengatakan tanpa kebijakan pemerintahannya, industri minyak AS tidak akan berada pada posisi saat ini. Dia juga menyinggung kembalinya Chevron beroperasi di Venezuela setelah sebelumnya sempat menghadapi pembatasan.

Sejauh ini, ExxonMobil dan Chevron belum memberikan tanggapan atas kritik tersebut. Sementara itu, American Petroleum Institute (API), organisasi yang mewakili perusahaan-perusahaan minyak AS, menilai kenaikan harga BBM lebih dipengaruhi kondisi pasar global dibandingkan kebijakan satu perusahaan.

Juru bicara API mengatakan harga energi saat ini didorong oleh faktor pasokan dan permintaan global serta ketidakpastian di Selat Hormuz dan jalur pelayaran strategis lainnya. 

"Kenaikan harga saat ini dipicu oleh kondisi pasokan, permintaan global, serta ketidakpastian di Selat Hormuz dan jalur pelayaran penting lainnya, bukan oleh satu perusahaan tertentu," ujarnya.

Trump selama ini menjadikan peningkatan produksi energi domestik sebagai salah satu agenda utama pemerintahannya. Namun, di sisi lain dia juga terus menekan perusahaan migas agar menjaga harga BBM tetap rendah sehingga memunculkan ketegangan antara target peningkatan produksi dan keuntungan perusahaan.

Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump kembali meminta perusahaan migas segera memangkas harga jual BBM kepada konsumen. Menurut dia, harga minyak akan turun tajam apabila konflik dengan Iran berakhir. 

"Mereka harus menurunkan harga untuk konsumen. Ketika konflik dengan Iran selesai, harga minyak akan jatuh sangat dalam," ujarnya.

Harga bensin yang tinggi menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu sela AS pada November 2026. Rata-rata harga bensin nasional saat ini mencapai sekitar USD4,10 per galon atau naik lebih dari 30 persen sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas pada awal tahun.

Laporan keuangan terbaru menunjukkan perusahaan-perusahaan migas AS menikmati kenaikan laba berkat lonjakan harga minyak dan membaiknya margin pengilangan. Selain ExxonMobil dan Chevron, Valero Energy membukukan laba kuartalan tertinggi sejak krisis energi 2022, sedangkan Chevron mencatat laba kuartalan tertinggi dalam sedikitnya enam tahun terakhir.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement