Faisal menerangkan, ketidakpastian global seperti memanasnya kembali situasi di kawasan Timur Tengah memang berdampak pada pergerakan harga minyak mentah dan aliran modal keluar atau capital flow.
Meskipun pemerintah tidak memiliki kendali atas faktor eksternal tersebut, dia menilai fondasi fundamental yang kokoh di tingkat domestik akan menjadi perisai yang paling efektif untuk menahan gejolak mata uang.
Dia lantas menyoroti soal ketergantungan terhadap kondisi luar negeri justru menunjukkan kerentanan ekonomi nasional.
"Nah, di luar itu memang ada faktor eksternal, tapi faktor eksternal itu kan di luar kontrol domestik. Jadi artinya ya kita tidak bisa mengandalkan, bergantung pada kondisi eksternal," kata Faisal.
Lebih lanjut, Faisal mengakui otoritas moneter telah bekerja cukup optimal melalui berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas mata uang.
Meski demikian, dia menegaskan, efektivitas kebijakan moneter tersebut harus didukung dengan langkah-langkah konkret dari sisi pemerintahan agar tekanan terhadap rupiah dapat diredam secara permanen.
Pemerintah diminta untuk memberikan kepastian kepada pelaku pasar swasta bahwa kebijakan yang diambil bersifat kredibel dan terencana dengan baik. Hal ini diharapkan mampu menurunkan tekanan terhadap nilai tukar di tengah kondisi global yang masih penuh ketegangan.
"Pemerintah perlu meyakinkan para pelaku pasar, swasta juga untuk supaya tadi tekanan terhadap rupiah ini bisa menurun. Walaupun dalam kondisi global yang tensinya meningkat seperti sekarang," kata Faisal.
Fluktuasi harga minyak mentah dunia yang juga mulai menurun digadang-gadang pemerintah dapat berefek langsung pada penguatan nilai mata uang rupiah.
Seperti yang diutarakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini. Penekanan Bendahara Negara soal turunnya harga minyak mentah dunia dapat menjadi katalis dalam memperbaikinya makro ekonomi domestik dan global, terlebih sentimen positif datang dari hasil penilaian lembaga pemeringkat S&P Global yang mengatakan Mata Uang Garuda rata-rata mencapai Rp17.700 per USD pada 2026.
Dari sana, Purbaya mengharapkan adanya peningkatan dalam neraca dagang dan sebaliknya impor energi bisa dikurangi sehingga meminimalkan penggunaan cadangan devisa.
(Dhera Arizona)