IDXChannel- Malaysia berpeluang untuk negosiasi penurunan tarif ekspor ke Amerika Serikat (AS). Namun, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim menyebut pertumbuhan ekonomi Malaysia berpotensi gagal mencapai target di 2025.
Anwar Ibrahim menyampaikan hal itu dalam pidato di parlemen pada Senin (5/5/2025) sebagaimana dilansir dari Yahoo Finance. Malaysia saat ini terancam dikenai tarif sebesar 24 persen untuk produk ekspor ke AS mulai Juli 2025.
Anwar menyebut dampak dari penerapan tarif itu masih bisa dikelola dalam jangka pendek. Saat ini, Malaysia mencoba cara untuk menegosiasi kebijakan tarif itu.
“Ada kemungkinan untuk mengurangi tarif resiprokal ini melalui negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat,” ujar Anwar.
Malaysia terbuka untuk membahas hambatan non-tarif serta mengurangi surplus perdagangan bilateral dengan AS. Malaysia bahkan sedang menjajaki kemungkinan perjanjian perdagangan baru untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu.