Menurut riset Bank Mandiri, tingginya impor terjadi bersamaan dengan pertumbuhan produksi listrik berbasis batu bara sebesar 1,7 persen yoy, yang menandai ekspansi selama enam bulan berturut-turut. Kondisi tersebut dikaitkan dengan lonjakan permintaan listrik akibat cuaca ekstrem yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Sementara itu, pasokan domestik China justru melemah. Produksi batu bara negara tersebut turun 9,7 persen yoy menjadi 380 juta ton pada Juni 2026 setelah pemerintah memperketat produksi dan inspeksi keselamatan menyusul ledakan tambang Liushenyu di Provinsi Shanxi.
Selain menyoroti ekspor, Bank Mandiri juga mengulas perkembangan hilirisasi batu bara di Indonesia melalui proyek dimetil eter (DME) dan metanol.
Riset tersebut mencatat Danantara kembali menghidupkan proyek gasifikasi batu bara yang sempat terhenti setelah mundurnya Air Products pada 2023. Pemerintah kini mendorong kelanjutan proyek melalui sejumlah insentif.
Namun, Bank Mandiri menilai pengembangan metanol lebih realistis secara ekonomi karena telah memiliki ekosistem industri yang lebih matang, mulai dari bahan baku petrokimia hingga keterkaitannya dengan program biodiesel B50.