AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

ESDM Keluarkan Aturan PLTS Atap yang Baru, Bisa Datangkan Investasi Rp63,7 T

ECONOMICS
Athika Rahma
Minggu, 23 Januari 2022 15:00 WIB
Kementerian ESDM menerbitkan aturan baru terkait PLTS Atap yakni Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2021.
ESDM Keluarkan Aturan PLTS Atap yang Baru, Bisa Datangkan Investasi Rp63,7 T (FOTO: Dok MNC Media)
ESDM Keluarkan Aturan PLTS Atap yang Baru, Bisa Datangkan Investasi Rp63,7 T (FOTO: Dok MNC Media)

IDXChannel - Kementerian ESDM menerbitkan aturan baru terkait PLTS Atap yakni Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2021. Dengan aturan terbaru ini, pelanggan bisa ekspor listrik ke PLN hingga 100 persen.

Diberlakukannya Permen 26 Tahun 2021 mendorong percepatan target PLTS Atap sebesar 3,6 GW yang akan dilakukan secara bertahap hingga tahun 2025. Menurut perhitungan Kementerian ESDM, penetapan target ini berdampak positif pada beberapa hal. 

Misalnya, terdapat potensi meningkatkan investasi sebesar Rp45 triliun hingga Rp63,7 triliun untuk pembangunan fisik PLTS dan Rp2,04 Triliun sampai Rp4,1 triliun untuk pengadaan kWh Exim. 

Kemudian, dampak positif lainnya ialah berpotensi menyerap 121.500 orang tenaga kerja dan mendorong tumbuhnya industri pendukung PLTS di dalam negeri dan meningkatkan daya saing dengan semakin tingginya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN);

Lalu, penerapan aturan ini mendukung green product sektor jasa dan green industry untuk menghindari penerapan carbon border tax di tingkat global serta menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 4,58 juta ton CO2e. 

Terakhir, terdapat potensi penerimaan dari penjualan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sebesar Rp 0,06 Triliun/tahun (asumsi harga karbon 2 USD/ton CO2e). 

(RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD