IDXChannel – Harga minyak dunia diperkirakan tetap tinggi dan bergejolak meski Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan, karena kerusakan infrastruktur energi dan gangguan pasokan belum sepenuhnya pulih.
Analis Phillip Nova Priyanka Sachdeva menilai, dikutip Dow Jones Newswires, harga energi yang tinggi masih akan membebani bisnis dan pasar global, meski Presiden AS Donald Trump sepakat menghentikan serangan dengan syarat Selat Hormuz segera dibuka kembali.
Menurutnya, pembukaan jalur pelayaran tidak serta-merta menghapus dampak kerusakan infrastruktur energi.
“Biaya sebenarnya dari konflik ini akan terasa di harga bahan bakar dan inflasi global selama berbulan-bulan,” ujarnya.
Chief Investment Officer Zaye Capital Markets Naeem Aslam mengatakan harga minyak akan tetap volatil dalam jangka pendek karena pasar sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik.
Ia menilai minyak kini berada di persimpangan, dengan potensi penurunan terbatas oleh perbaikan pasokan, namun risiko kenaikan tetap besar jika ketegangan kembali meningkat.
Harga Brent rebound sekitar 3,1 persen ke USD97,61 per barel dan WTI menguat 3,6 persen ke USD97,85 per barel pada Kamis (9/4/2026) pagi, menunjukkan pasar masih sensitif terhadap perkembangan gencatan senjata.
Meski sempat jatuh 13-16 persen ke kisaran pertengahan USD90 per barel pada Rabu (8/4), sentimen pasar dinilai masih rapuh dan mudah berubah.
Ekonom Mizuho Securities memperkirakan harga minyak bertahan di kisaran USD90 per barel sepanjang kuartal II-2026 sebelum kembali ke level sebelum konflik.
Mereka menilai ketidakpastian terbesar adalah bagaimana volatilitas minyak akan diteruskan ke harga konsumen, terutama saat perusahaan semakin berani menaikkan harga.
Senada, analis Hargreaves Lansdown Matt Britzman menyebut harga minyak akan tetap tinggi hingga ada resolusi permanen konflik Timur Tengah.
Menurutnya, arus pelayaran bebas di Selat Hormuz tanpa pembatasan Iran menjadi kunci agar harga minyak kembali stabil.
Sementara itu, Head of Research Julius Baer Christian Gattiker menilai pasar energi kemungkinan telah melewati puncak guncangan pasokan, namun investor tetap perlu berhati-hati karena volatilitas bisa kembali meningkat setelah periode gencatan senjata berakhir. (Aldo Fernando)