Distribusi dan pengangkutan buah sawit juga disebut tersendat, sehingga TBS menumpuk di sejumlah daerah dan paling membebani petani swadaya.
Menurut POPSI, ketidakjelasan mekanisme ekspor membuat trader dan pabrik cenderung menahan pembelian. Kondisi itu memicu kekhawatiran terjadinya penurunan pendapatan yang lebih dalam bagi petani kecil.
Tekanan juga dirasakan petani di daerah. Supriyadi, petani sawit asal Mamuju, mengatakan harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.800 per kilogram (kg) kini merosot menjadi sekitar Rp1.000 per kilogram.
Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Sabarudin, menilai penurunan harga terjadi setelah sejumlah perusahaan mulai menahan pembelian dan menghentikan sementara penjualan.
Menurut dia, pasar merespons negatif rencana penerapan sistem perdagangan ekspor dengan skema pembeli tunggal atau satu pintu.