Namun, DBS Research menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah akan menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi prospek ekonomi global dan Indonesia. Risiko gangguan distribusi energi global dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Dalam skenario dasar, harga minyak diperkirakan berada di kisaran USD80–85 per barel. Namun dalam skenario ekstrem, gangguan distribusi global berpotensi mendorong harga minyak melonjak hingga USD100–150 per barel.
Selain harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga produsen (PPI), dan risiko cuaca akibat El Nino juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan tekanan harga dalam beberapa kuartal mendatang.
“DBS Research juga menilai Bank Indonesia akan semakin fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Meski suku bunga acuan masih dipertahankan, arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih hawkish,” kata William.
(NIA DEVIYANA)