Faktor-faktor tersebut mencakup penggunaan cadangan minyak dan gas oleh banyak negara, peningkatan pasokan energi dari luar kawasan Teluk, penurunan permintaan energi, peningkatan kapasitas energi terbarukan, serta kembali digunakannya pembangkit listrik tenaga batu bara di beberapa wilayah.
“Investasi AI di AS menjaga kinerja laba perusahaan dan belanja konsumen tetap kuat, sementara negara-negara lain juga mulai meningkatkan pembangunan pusat data serta pasokan perangkat keras AI,” ujarnya.
Paparan mengenai kondisi ekonomi global ini tidak disertai dengan prakiraan baru. Pada Juli lalu, IMF telah menurunkan proyeksi pertumbuhan global tahun 2026 ke angka yang lesu sebesar 3,0 persen, sembari memperingatkan adanya risiko penurunan lebih lanjut akibat konflik di Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, dan potensi ketidakpastian terkait AI.
IMF dijadwalkan memperbarui kembali proyeksi pertumbuhan global pada pertengahan Oktober mendatang dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok.
Guncangan Energi Belum Berakhir
Lebih lanjut, Georgieva memperingatkan para pembuat kebijakan agar tidak lengah, mengingat harga acuan minyak mentah Brent telah bergerak di kisaran USD80–USD90 per barel sejak pertengahan Juni—angka yang jauh di bawah puncak harga pada musim semi yang sempat melampaui USD118.