AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Inflasi Meningkat, BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga Dua Kali di Semester II-2022

ECONOMICS
Hafid Fuad
Senin, 17 Januari 2022 10:15 WIB
Bank Indonesia berpotensi mulai menaikkan suku bunga di semester kedua 2022 .
Bank Indonesia berpotensi mulai menaikkan suku bunga di semester kedua 2022 . (Foto: MNC Media)
Bank Indonesia berpotensi mulai menaikkan suku bunga di semester kedua 2022 . (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Presiden Direktur Bahana TCW, Rukmi Purborini mengatakan  pemulihan perekonomian dunia diperkirakan akan terus berlanjut bersamaan dengan tingginya inflasi global. Namun dengan perbaikan rantai pasokan, inflasi berpotensi untuk perlahan mereda. Normalisasi inflasi berpeluang lebih cepat terjadi di negara berkembang yang telah terlebih dahulu menaikan suku bunga sejak 2021. 

Di lain sisi, Bank sentral Amerika serikat (AS) baru akan menaikan suku bunganya di pertengahan 2022 setelah  menyelesaikan proses pengurangan pembelian asetnya (tapering). 

"Bank Indonesia berpotensi mulai menaikkan suku bunga di semester kedua 2022 sebanyak dua kali (2x25bps) untuk mengantisipasi kenaikan inflasi domestik," ujar Rukmi di Jakarta (17/1/2022).


Dia juga menilai tools kebijakan bank sentral lainnya akan tetap terjaga akomodatif untuk mendukung pemulihan kredit dan ekonomi. "Inflasi diperkirakan meningkat ke kisaran 3%, sejalan dengan kembalinya daya beli masyarakat dan kenaikan harga energi seperti listrik dan BBM," tambahnya.

Kemudian pemulihan ekonomi 2022 akan lebih didorong oleh peran sektor swasta, menggantikan pemerintah yang mulai mengurangi belanjanya. Kami mengekspektasikan rupiah terjaga stabil seiring dengan reformasi struktural melalui UU Cipta Kerja yang berpotensi menarik investasi asing ke Indonesia.

Reksa dana saham diproyeksi menjadi instrumen paling menarik selain reksa dana pasar uang yang akan kembali  memberikan imbal hasil yang menarik seiring kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.  Sedangkan reksa dana pendapatan tetap (obligasi) diperkirakan akan memberikan return single digit.

Di 2022, fundamental makro yang diproyeksikan akan lebih baik dan sentimen eksternal yang terus  memperkuat perekonomian nasional, diharapkan dapat menjaga kondusifitas investasi di Indonesia. 

"Didorong oleh optimisme ini, kami juga berkomitmen untuk tetap fokus berinovasi melalui produk, layanan dan sistem kami agar dapat terus menghadirkan produk-produk investasi dikelola dengan baik dan berorientasi pada profitabilitas yang baik pula,” tutup Rukmi. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD