Maluku Utara menjadi salah satu daerah yang merasakan perubahan struktur ekonomi akibat pengembangan industri pengolahan. Rosan menyebut industri pengolahan kini menyumbang hampir separuh produk domestik bruto (PDB) Maluku Utara.
Kondisi tersebut membuat Maluku Utara tidak lagi hanya berperan sebagai daerah pertambangan, tetapi mulai berkembang sebagai basis industri pengolahan dan manufaktur berbasis sumber daya mineral.
Surplus perdagangan Maluku Utara juga disebut meningkat tajam hingga mencapai Rp31,1 triliun pada 2025. Ekspor daerah tersebut didominasi produk olahan nikel, antara lain ferronikel, nickel matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan kobalt.
Rosan menambahkan, sejak 2018 kawasan IWIP telah menyerap investasi sekitar USD20 miliar. Dengan tambahan proyek baru sekitar USD7 miliar, total investasi di kawasan tersebut berpotensi mencapai USD27 miliar.