Selain Timur Tengah, Ibrahim juga menyoroti konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung. Menurutnya, serangan terhadap fasilitas energi Rusia dapat mengurangi produksi minyak negara tersebut sehingga menambah tekanan terhadap pasokan minyak dunia.
"Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap instalasi minyak. Dampaknya produksi minyak Rusia mengalami penurunan dan hal itu akan memperkuat harga minyak mentah," ujarnya.
Di sisi lain, ia menilai dinamika politik masih menjadi faktor dominan dibandingkan kondisi fundamental pasar. Meskipun saat ini terjadi kelebihan pasokan (oversupply), ketegangan geopolitik dinilai mampu mengubah arah pergerakan harga minyak dalam waktu singkat.
"Walaupun kita lihat terjadi oversupply, rupanya politik sangat mempengaruhi terhadap penguatan harga minyak mentah dunia," kata Ibrahim.
Lebih lanjut, Ibrahim menilai kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat.
Kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga apabila gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama.