“Mulai tahun 2018, Indonesia sudah mengekspor sekitar 12,7 juta US dolar atau sekitar Rp173 miliar. Kemudian meningkat ke Rp194 milar, kemudian meningkat lagi. Di tahun 2020 saat pandemi, sekitar Rp20an miliar. Kenaikan sampai 65 persenan,” ujarnya dalam market review IDX TV di Jakarta, Jumat (2/5/2021).
Namun jika dilihat secara global itu terbalik. Tanaman hias meningkat, tetapi daun dan bunga potong justru anjlok. Hal itu dilihat dari data yang didapat dari pasar Rawa Belong yang semula sekitar Rp154 miliar ditahun 2019, kemudian saat pandemi turun drastis sampai Rp40 miliar.
Karen menuturkan selama ini akses petani atau pedagang bisa langsung keluar daerah bahkan luar negeri. Sementara bisnis tanaman hias harusnya segera dijadikan industri.
“Salah satunya industri petani, petani yang berkelompok kemudian di training untuk menjadi petani yang berkompeten kemudian juga mengetahui nilai-nilai bisnis. Karena didalam bisnis itu ada etikanya. Lalu ketika mau mengirim juga ada persyaratan dari negara. Nah itu harus di penuhi. Kita sekarang lagi banyak yang pengirimannya secara pribadi jadi lewat jasa pengiriman. Padahal semuanya harus melalui karantina,” jelasnya.
ASBINDO selama ini sudah melakukan pelatihan-pelatihan. Selama pandemi, pelatihan dilakukan dengan zoom meeting maupun kunjungan-kunjungan lapangan serta memberikan informasi kepada petani maupun pedangang. Hal ini dilakukan karena ada potensi pajak yang harus didapatkan juga oleh pemerintah. (TYO)