Dia berharap JCWF 2026 dapat menjadi bagian dari upaya Indonesia membangun industri wellness tourism yang semakin matang dan memiliki daya saing kuat di pasar internasional, dengan tetap mengedepankan identitas serta budaya bangsa.
Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu Bendara mengatakan, penyelenggaraan JCWF tahun ini menargetkan sebanyak 1.500 kunjungan.
Target tersebut disesuaikan dengan kapasitas ruang kegiatan yang relatif terbatas. Menurutnya, sebagian besar aktivitas dalam festival membutuhkan suasana yang tenang dengan jumlah peserta yang tidak terlalu besar, terutama untuk kegiatan meditasi.
“Kenapa 1.500? Karena kami membutuhkan ruangan yang juga, ruangannya kecil-kecil dengan pesertanya kecil-kecil sehingga tidak terlalu ramai kegaduhan. Kalau terlalu besar, itu juga nanti yang bermeditasi akan terasa terganggu dengan lalu lintas atau lalu lalang dari peserta-peserta yang lainnya,” jelas GKR Bendara.
Dia menambahkan, target kunjungan tersebut saat ini difokuskan pada pasar domestik. Hal ini mempertimbangkan mayoritas pelaku wellness yang terlibat dalam JCWF masih menggunakan bahasa Indonesia.