AALI
8450
ABBA
222
ABDA
6050
ABMM
4280
ACES
615
ACST
186
ACST-R
0
ADES
7200
ADHI
740
ADMF
8300
ADMG
169
ADRO
4090
AGAR
294
AGII
2230
AGRO
605
AGRO-R
0
AGRS
93
AHAP
106
AIMS
240
AIMS-W
0
AISA
177
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1620
AKRA
1395
AKSI
322
ALDO
670
ALKA
288
ALMI
388
ALTO
170
Market Watch
Last updated : 2022/10/07 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
531.65
-0.49%
-2.62
IHSG
7057.14
-0.28%
-19.48
LQ45
1005.84
-0.48%
-4.84
HSI
17831.83
-1%
-180.32
N225
27172.40
-0.51%
-138.90
NYSE
14087.38
-1.23%
-174.65
Kurs
HKD/IDR 1,933
USD/IDR 15,185
Emas
835,647 / gram

Jokowi Gaungkan Benci Produk Asing, Ekonom : Hati-hati Picu Perang Dagang

ECONOMICS
Shelma Rachmahyanti
Selasa, 09 Maret 2021 12:30 WIB
Diksi benci produk asing kurang tepat karena bisa memicu retaliasi atau pembalasan oleh dunia internasional dan perang dagang.
Diksi benci produk asing kurang tepat karena bisa memicu retaliasi atau pembalasan oleh dunia internasional dan perang dagang. (Foto: MNC Media)
Diksi benci produk asing kurang tepat karena bisa memicu retaliasi atau pembalasan oleh dunia internasional dan perang dagang. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai, diksi yang digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait benci produk asing kurang tepat. Menurut dia, hal ini bisa memicu retaliasi atau pembalasan oleh dunia internasional sehingga terjadi perang dagang.

“Memang maksudnya baik, jadi maksud Pak Presiden itu kan bagaimana caranya kita bisa meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Namun, penggunaan diksinya itu saya rasa kurang tepat karena ini bisa memicu retaliasi karena kalau dunia internasional mengetahui tagline tersebut apalagi kalau sudah menjadi tagline gitu ya, tentu ini tidak disukai oleh para mitra dagang kita,” ujarnya dalam acara Market Review IDX Channel, Selasa (9/3/2021).

Ahmad menjelaskan, hal ini pada akhirnya bisa memicu protes dari mitra dagang Indonesia. Sehingga nantinya akan mempersulit produk ekspor Indonesia sendiri apabila ingin melakukan penetrasi pasar. Di sisi lain, tentu harus ada strategi yang dibangun di tengah maraknya liberalisasi perdagangan.

“Justru yang kita butuhkan sekarang bagaimana kita bisa meningkatkan ekspor semaksimal mungkin ya, kita bisa melakukan penetrasi pasar. Di sisi lain kita juga bisa melakukan subtitusi impor,” jelas dia.

Selain itu, jika dilihat dan dibandingkan tagline yang dibangun atau yang dibuat oleh negara lain itu tidak ada yang sifatnya diskriminatif seperti itu. Jadi kalau kita lihat contohnya di China itu “Made in China 2025”, di India menggunakan kalimat “Make in India”, kita juga semestinya perlu ada tagline yang bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap produk dalam negeri dan rasa bangga apabila kita menggunakan produk dalam negeri,” tambah Ahmad.(TIA)

Sementara itu, menurutnya, produk impor barang konsumsi yang masuk melalui e-commerce perlu ditinjau ulang. Hal ini terkait apakah produk-produk ini sudah mengikuti standar ketentuan dan aturan yang berlaku di Indonesia.

“Jadi memang di tengah liberasisasi ya kita terbuka gitu ya. Tapi kita berkompetisi mengutamakan fair trade perdagangan yang mengedepankan seimbang, adil, ya fair lah pokoknya. Jadi, konteksnya itu tentu menurut saya fair yang dimaksud adalah pengendalian impor khusus untuk barang konsumsi. Kalau untuk impor bahan baku justru ini sangat dibutuhkan ya industrialisasi kita,” ujar Ahmad. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD