AALI
9700
ABBA
286
ABDA
7375
ABMM
1380
ACES
1340
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
194
ADRO
2230
AGAR
344
AGII
1435
AGRO
1345
AGRO-R
0
AGRS
167
AHAP
69
AIMS
372
AIMS-W
0
AISA
179
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1140
AKRA
785
AKSI
845
ALDO
1485
ALKA
346
ALMI
278
ALTO
270
Market Watch
Last updated : 2022/01/19 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.22
-0.66%
-3.34
IHSG
6591.98
-0.33%
-22.08
LQ45
938.61
-0.66%
-6.20
HSI
24127.85
0.06%
+15.07
N225
27467.23
-2.8%
-790.02
NYSE
0.00
-100%
-17219.06
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,369
Emas
837,003 / gram

Jokowi Ungkap Impor Minyak Terlalu Besar

ECONOMICS
Athika Rahma
Sabtu, 20 November 2021 17:00 WIB
Presiden Joko Widodo menyorot impor minyak ke Indonesia sudah terlalu besar, dia pun memberi tugas kepada direksi dan komisaris PT Pertamina (Persero).
Jokowi Ungkap Impor Minyak Terlalu Besar. (Foto: MNC Media)
Jokowi Ungkap Impor Minyak Terlalu Besar. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Presiden Joko Widodo menyorot impor minyak ke Indonesia sudah terlalu besar. Untuk itu, dia meminta jajaran direksi dan komisaris PT Pertamina (Persero) agar bisa segera beralih ke energi terbarukan.

Menurutnya, jika transisi energi tidak terjadi, maka pengaruhnya akan ada di neraca pembayaran dan nilai tukar rupiah. Meski begitu, suplai energi Indonesia masih didominasi oleh batu bara sebesar 67 persen, minyak 15 persen dan gas 8 persen.

"Goal besarnya adalah negara ini akan memperoleh keuntungan dalam bentuk neraca pembayaran, yang sudah berpuluh tahun tidak bisa kita selesaikan karena problemnya impor minyak kita terlalu besar sekali," tandas Jokowi dikutip dari YouTube Sekretariat Kabinet, Sabtu (20/11/2021).

Selain itu, Jokowi bilang kalau importase yang terlalu besar akan berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah karena setiap bulan, Pertamina harus membeli dolar di pasar dengan jumlah yang besar untuk impor minyak.

Oleh karenanya, dirinya ingin agar energi terbarukan dapat dikembangkan menggantikan energi fosil. Dengan begitu, penggunaan minyak akan berkurang, begitu juga impornya.

"Tapi problemnya, di situ ada. Nah itu tugas Bapak/Ibu sekalian, tahapnya seperti apa. Mana yang bisa cepat. Kalau ini nggak diselesaikan, sampai kapanpun neraca pembayaran kita nggak akan beres," pungkasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD