sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kadin: Hilirisasi Jadi Magnet Investasi Baru di Tengah Ketidakpastian Global

Economics editor Tangguh Yudha
08/05/2026 17:05 WIB
Indonesia memiliki berbagai komoditas strategis yang berpotensi memberikan nilai tambah lebih besar apabila dilakukan proses hilirisasi di dalam negeri.
Kadin: Hilirisasi Jadi Magnet Investasi Baru di Tengah Ketidakpastian Global (Foto: iNews Media Group)
Kadin: Hilirisasi Jadi Magnet Investasi Baru di Tengah Ketidakpastian Global (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, program hilirisasi komoditas menjadi magnet investasi baru di tengah dinamika ekonomi global.

Ketua Umum Kadin, Anindya Novyan Bakrie mengatakan, Indonesia memiliki berbagai komoditas strategis yang berpotensi memberikan nilai tambah lebih besar apabila dilakukan proses hilirisasi di dalam negeri.

"Indonesia juga mempunyai komoditas-komoditas yang bisa ditingkatkan. Nah ini benar-benar kesempatan untuk memikirkan bagaimana komoditas-komoditas kita dari palm oil, dari batu bara, nikel sampai yang lain itu bisa bukan saja kita ekspor tapi kita bisa hilirisasi," kata Anindya dalam acara Kadin Indonesia Monthly Diplomatic Economic Breakfast yang digelar di Wisma Danantara pada Jumat (8/5/2026).

Dia menilai, hilirisasi tidak hanya memperkuat struktur industri nasional, tetapi juga dapat menciptakan efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, hingga peningkatan investasi.

Anindya juga menyinggung peran Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani yang dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong agenda hilirisasi nasional.

“Dan kebetulan Pak Rosan memang Menteri Investasi dan juga hilirisasi, jadi cocok,” katanya.

Dalam momen yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani menyebut bahwa Pemerintah terus memperluas program hilirisasi pada berbagai sektor strategis nasional. Selain mineral seperti nikel, hilirisasi kini juga diarahkan ke sektor kehutanan, minyak dan gas, hingga perikanan dan kelautan.

Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan cetak biru pengembangan hilirisasi untuk memperluas nilai tambah berbagai komoditas unggulan Indonesia.

"Pemerintah kita, Kementerian kita, juga ingin meningkatkan implementasi hilirisasi pada kehutanan, minyak dan gas, dan juga perikanan dan kelautan. Dan jelas kami memiliki cetak biru tentang energi hilirisasi kita," tutur dia.

Rosan menjelaskan, hilirisasi nikel menjadi salah satu fokus utama karena Indonesia memiliki sekitar 42 persen cadangan nikel dunia. Selain itu, Indonesia juga memiliki cadangan bauksit dan tembaga terbesar kedua di dunia.

Tak hanya sektor mineral, pemerintah juga melihat potensi besar dari komoditas kelautan dan perkebunan. Rosan menyebut Indonesia merupakan produsen rumput laut nomor dua di dunia dan menjadi produsen terbesar untuk kategori rumput laut tropis.

Selain itu, hilirisasi juga mulai diarahkan pada komoditas udang dan kelapa. Menurut Rosan, investasi hilirisasi kelapa senilai USD100 juta yang masuk tahun ini mampu menciptakan sekitar 30 ribu lapangan kerja.

"Tahun ini kita memiliki investasi untuk kelapa, untuk hilirisasi kelapa. Hanya US$100 juta. Tapi itu menciptakan 30.000 lapangan kerja," kata Rosan.

Di sisi lain, Rosan menegaskan, pemerintah terus memperbaiki iklim investasi nasional guna menarik lebih banyak investor. Upaya tersebut dilakukan melalui penyederhanaan regulasi, pemangkasan birokrasi, hingga peningkatan kepastian kebijakan bagi investor.

"Kita terbuka untuk bisnis. Jadi itulah mengapa kita mencoba untuk memangkas birokrasi, mengurangi jumlah regulasi yang tidak perlu, kebijakan dari semua tingkat yang berbeda dan juga memberikan kepastian lebih tidak hanya untuk investasi yang datang ke Indonesia tetapi juga investasi domestik," ujarnya.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement