Dari keseluruhan operasional kinerja sepanjang enam bulan pertama 2026, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu mengantongi pendapatan Rp542,7 miliar, turun tipis secara tahunan (year on year/YoY) dari posisi Rp653,9 miliar pada periode sama di 2025, seiring lebih rendahnya pendapatan bunga investasi yang didapat.
Tren penurunan juga terjadi pada realisasi laba bersih, yang pada saat yang sama tercatat sebesar Rp38,2 miliar, dari capaian Rp85,3 miliar pada periode sama tahun lalu, seiring adanya pelunasan dipercepat oleh nasabah pada triwulan I-2026 lalu.
Sedangkan pendapatan non-bunga tumbuh 54,8 persen (YoY) menjadi Rp43,0 miliar, didorong oleh bisnis pembiayaan dan investasi, advisory, serta treasury, dengan pendapatan bunga treasury pada saat yang sama juga tumbuh 17,5 persen (YoY).
Di lain pihak, IIF juga mencatatkan Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat 56,79 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator, sehingga memberikan ruang yang luas untuk ekspansi bisnis pembiayaan dan investasi.
"Kualitas aset tetap terjaga. Rasio cakupan kerugian pinjaman berada di atas 100 persen, dan NPF (non performing fund) bersih membaik menjadi 3,49 persen dari 3,61 persen," ujar Rizki.