Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan bulan lalu bahwa Iran akan mengizinkan kapal-kapal Malaysia untuk melewati selat tersebut. Kuala Lumpur kemudian mengatakan bahwa ada tujuh kapal yang terkait dengan perusahaan-perusahaan Malaysia — termasuk Petronas, Vantris Energy, dan MISC — yang sedang menunggu izin untuk melintasi jalur laut tersebut.
Iran secara efektif menutup selat tersebut, jalur maritim penting bagi sekitar seperlima aliran minyak bumi dan gas alam cair (LNG) global, sebagai tanggapan terhadap serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai pada akhir Februari.
Baru-baru Ini, Iran mengatakan bahwa mereka akan mengizinkan kapal-kapal tanpa koneksi AS atau Israel untuk melewatinya. Dalam beberapa hari terakhir, tiga kapal tanker yang dioperasikan Oman, sebuah kapal kontainer milik Prancis, dan sebuah kapal pengangkut gas milik Jepang telah melintasi selat tersebut.
Malaysia mengatakan pekan lalu bahwa Iran akan mengizinkan kapal-kapalnya untuk melewati selat tersebut tanpa membayar biaya tol. Teheran sedang mematangkan rencana untuk mengenakan biaya pada kapal yang berlayar melalui jalur air tersebut. (Wahyu Dwi Anggoro)