"Penguatan konsumsi juga terlihat dari penjualan kendaraan bermotor yang positif, dengan penjualan sepeda motor naik 3,1 persen dan penjualan mobil tumbuh 7,0 persen," tambahnya.
Optimisme masyarakat juga tetap berada di zona kuat, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik ke level 127 dari sebelumnya 123,5.
Di sektor eksternal, Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD0,95 miliar.
Capaian ini ditopang oleh ekspor non-migas, khususnya dari industri pengolahan yang tumbuh 8,19 persen (yoy), mencakup komoditas utama seperti minyak sawit, nikel, besi baja, serta produk bernilai tambah seperti otomotif dan elektronik.
Sementara itu, impor tercatat sebesar USD21,20 miliar atau naik 18,21 persen (yoy). Kenaikan impor ini dinilai positif karena didominasi oleh bahan baku dan barang modal, yang menandakan aktivitas investasi dan produksi di dalam negeri tengah bergeliat.
Meskipun indikator ekonomi domestik menunjukkan tren positif, pemerintah tetap memberikan perhatian khusus pada eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 yang berujung pada penutupan Selat Hormuz menjadi risiko utama bagi rantai pasok energi global.
Febrio menekankan bahwa gangguan pada pasokan minyak bumi dan volatilitas pasar keuangan global dapat menekan kinerja ekonomi melalui peningkatan biaya logistik.
"Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional," kata Febrio.
(Nur Ichsan Yuniarto)