Sarmuji menjelaskan bahwa lompatan teknologi digital telah mengubah peta perniagaan sekaligus membuka peluang yang jauh lebih lebar bagi pelaku IKM untuk menjangkau konsumen lintas negara. Keterbatasan skala usaha maupun hambatan jarak geografis kini kian mudah dijembatani melalui perniagaan elektronik dan beragam platform digital.
Menurutnya, kehadiran komoditas IKM lokal di panggung global membawa nilai strategis yang lebih luas dari sekadar transaksi dagang. Produk khas Indonesia yang masuk ke berbagai negara sekaligus dapat menjadi sarana memperkuat citra dan memperkenalkan kekayaan identitas Nusantara kepada masyarakat dunia.
“Dalam konteks tertentu, ini juga bisa menjadi soft diplomacy. Produk-produk kita yang masuk ke luar negeri membawa identitas Indonesia. Jadi, nilai yang dibawa bukan hanya ekonomi, tetapi juga pengenalan Indonesia kepada masyarakat global,” ujarnya.
Di samping memacu orientasi ekspor, Sarmuji meminta program pendampingan IKM memiliki indikator capaian yang terukur dan konkret. Salah satu tolok ukur utamanya adalah efektivitas intervensi pemerintah dalam mendongkrak skala kapasitas para pelaku usaha.
“Kita perlu identifikasi apakah yang kita lakukan terhadap IKM benar-benar bisa membuat mereka naik menjadi lebih tinggi. Misalnya, industri kecil bisa naik menjadi industri menengah. Jadi, pembinaan itu harus terlihat hasil akhirnya dan kita bisa mengukur perkembangannya,” tegas Sarmuji.