Pada periode tersebut, kata dia, kebijakan diskon tarif listrik menekan komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) dan berimbas pada penurunan level IHK.
Sebagai buktinya, IHK Januari 2025 tercatat di level 105,99 poin atau turun dari 106,8 poin pada Desember 2024, mencerminkan adanya deflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,76 persen.
Namun, pada awal 2026, pemerintah tidak lagi memberlakukan diskon listrik awal tahun.
Seiring normalisasi tarif tersebut, IHK Januari 2026 pun meningkat menjadi 109,75 poin, seolah-olah melonjak tajam dibanding Januari tahun lalu.
“Ini menegaskan bahwa inflasi Januari 2026 lebih disebabkan oleh penyesuaian harga yang diatur pemerintah,” kata dia.
Lebih lanjut, Fithra menilai, dinamika harga barang dan jasa secara umum masih relatif terkendali.
Hal ini tercermin dari inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kesehatan, pendidikan, serta restoran yang masing-masing hanya tumbuh di kisaran 1 persen secara tahunan.