sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Konsumsi Rumah Tangga Melambat di Kuartal III-2026, Wamenko Dradjad: Faktor Musiman

Economics editor Rohman Wibowo
08/11/2026 19:30 WIB
Pemerintah menepis kekhawatiran sejumlah pihak yang mengaitkan deselerasi konsumsi domestik dengan pelemahan daya beli masyarakat secara luas.
Konsumsi Rumah Tangga Melambat di Kuartal III-2026, Wamenko Dradjad: Faktor Musiman. Foto: iNews Media Group.
Konsumsi Rumah Tangga Melambat di Kuartal III-2026, Wamenko Dradjad: Faktor Musiman. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan tidak ada persoalan pada daya beli masyarakat, meskipun laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2026 tercatat sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. 

Pemerintah menilai perlambatan tipis pada pos konsumsi tersebut murni dipengaruhi oleh faktor musiman pascaberakhirnya periode libur panjang sekolah dan keagamaan, bukan akibat penurunan kapasitas belanja masyarakat.

Pemerintah menepis kekhawatiran sejumlah pihak yang mengaitkan deselerasi konsumsi domestik dengan pelemahan daya beli masyarakat secara luas. Dia menilai aktivitas belanja rumah tangga tetap berada di zona ekspansi yang solid kendati ritmenya melambat.

"Konsumsi rumah tangga enggak turun, konsumsi rumah tangga tetap naik. Tetap naik, tapi pertumbuhannya memang agak sedikit lebih kecil karena apa? Karena liburannya sudah habis. Jadi tiap liburan itu konsumsi selalu naik," ujar Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo saat ditemui di Sarinah Jakarta, Minggu (8/11/2026).

Dradjad memaparkan fenomena yang berlangsung saat ini bukanlah penurunan daya beli, melainkan pergeseran alokasi belanja masyarakat menuju sektor transportasi, komunikasi, serta pariwisata dan perhotelan. Dinamika tersebut dinilai membuktikan bahwa kapasitas finansial masyarakat tetap terjaga kokoh di tengah narasi perlambatan ekonomi.

"Kenapa kita tumbuh sangat bagus? Karena ternyata daya beli masyarakat yang selama ini tuh dinarasikan lemah, itu enggak betul. Ternyata daya beli masyarakat kita tuh sangat bagus, sangat tinggi, hanya bergeser," ujar Dradjad.

Kekuatan konsumsi domestik tersebut turut mengerek laju pertumbuhan ekonomi nasional melampaui kinerja mayoritas negara mitra global. Capaian ini menempatkan Indonesia di jajaran teratas dalam peta pemulihan ekonomi internasional di antara negara-negara anggota G20.

"Pertumbuhan kita itu tertinggi kedua dari anggota G20 setelah India. Jadi pertumbuhan kita mengalahkan China. Selama ini orang kan selalu memakai China sebagai patokan. Kita sudah tumbuh lebih tinggi dari China, lebih tinggi dari Korea Selatan. China 4,5 persen, Korea Selatan 3,4 persen, Jerman 1,2, Jepang 0,7 persen," tutur Dradjad.

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), melaju lebih tinggi dibandingkan capaian triwulan II-2026 yang sebesar 5,29 persen maupun triwulan III-2025 sebesar 5,04 persen.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak utama pertumbuhan nasional dengan porsi mencapai 51,97 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta memberikan andil sebesar 2,62 persen terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement