IDXChannel - PetroChina, produsen minyak dan gas terbesar di Asia, mencatat laba bersih tahunan 2025 turun 4,5 persen dari rekor pada 2024. Harga minyak yang lebih rendah menekan kinerja.
Melansir Reuters, Minggu (29/3/2026), laba bersih pada 2025 tercatat 157,3 miliar yuan atau sekitar Rp385,4 triliun, lebih rendah dibandingkan 164,7 miliar yuan pada 2024. Sementara itu, pendapatan turun 2,5 persen menjadi 2.864,5 miliar yuan, menurut laporan yang diterbitkan Bursa Efek Shanghai.
Perusahaan sejenis di China, CNOOC Ltd, juga melaporkan penurunan laba bersih 11,5 persen menjadi 122,08 miliar yuan, sementara laba raksasa pengolahan minyak Sinopec turun 37 persen menjadi 31,8 miliar yuan.
PetroChina memproduksi 948 juta barel minyak mentah tahun lalu, atau sekitar 2,6 juta barel per hari, naik 0,7 persen dari 2024. Produksi gas alam naik 4,5 persen menjadi 5.363,2 miliar kaki kubik (bcf).
Namun, harga rata-rata minyak mentah yang direalisasikan turun 14,2 persen dibandingkan level 2024.
Pengolahan minyak mentah oleh PetroChina, kilang terbesar kedua di China setelah Sinopec, turun 0,2 persen menjadi 1,376 miliar barel, atau 3,77 juta barel per hari.
Pada pertengahan 2025, PetroChina menutup secara permanen kilang terbesar milik anak usahanya di timur laut China, sebagai bagian dari kebijakan Beijing untuk membatasi total kapasitas pengolahan minyak nasional.
Penjualan bensin domestik PetroChina turun 2,3 persen dibanding tahun sebelumnya, mencerminkan dampak elektrifikasi yang cepat di China terhadap konsumsi bahan bakar. Sebaliknya, penjualan diesel domestik naik 0,8 persen.
Bahan bakar pesawat (avtur) menjadi pengecualian, dengan penjualan melonjak 18,3 persen berkat pemulihan perjalanan udara yang berkelanjutan.
Bisnis gas alam PetroChina tetap kuat, dengan laba operasional di segmen ini naik 12,6 persen menjadi 60,8 miliar yuan, didorong pertumbuhan yang cukup sehat serta peningkatan upaya pemasaran yang menghasilkan volume penjualan domestik lebih tinggi.
“Faktor geopolitik dapat secara berkala memengaruhi pasokan dan harga, sehingga menciptakan risiko ketidakpastian dan volatilitas yang tajam,” kata PetroChina dalam laporan kinerjanya, merujuk pada prospek tahun ini.
PetroChina memperkirakan produksi minyak mentah sebesar 941,3 juta barel pada 2026 dan gas alam sebesar 5.470,5 bcf. Perusahaan juga menargetkan output kilang tahun ini sebesar 1,377 miliar barel, atau 3,77 juta barel per hari.
Belanja modal direncanakan sebesar 279,4 miliar yuan atau sekitar Rp684,5 triliun untuk 2026, dibandingkan 269,1 miliar yuan yang dikeluarkan pada 2025.
(NIA DEVIYANA)