"Tapi kalau harganya lebih kompetitif, maka tidak menentu kemungkinan juga untuk kita mencoba untuk membuka akses pasar di Middle East," kata Bahlil.
Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan proyeksi impor minyak melalui kerja sama dengan Rusia diperkirakan tembus 150 juta barel. BBM ini bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, namun sekaligus industri.
Yuliot mengatakan impor minyak dari Rusia tidak diserap seluruhnya oleh PT Pertamina (Persero), tapi ada Badan Layanan Umum (BLU) Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas yang akan melakukan transaksi.
Nantinya para pelaku industri bisa langsung membeli minyak tersebut untuk kebutuhan aktivitas pertambangan hingga pabrik petrokimia, sebagai bahan baku utama untuk memproduksi plastik, karet sintetik, serat pakaian, pupuk, dan deterjen.
"Ini kan juga ada industri juga ya kemudian ada kegiatan tambang juga, jadi kita bisa distribusikan untuk bahan baku petrokimia, kan juga diperlukan," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (24/4/2027).
(NIA DEVIYANA)