Pihaknya senantiasa melakukan prosedur pengecekan silang terhadap berbagai variabel penunjang lainnya guna memastikan angka Produk Domestik Bruto (PDB) sejalan dengan kondisi fisik di pasar.
Indikator tersebut mencakup angka penjualan mobil, penjualan motor, belanja masyarakat, hingga data konsumsi listrik secara nasional.
Meski angka-angka tersebut tidak secara otomatis sama dengan PDB, variabel tersebut berfungsi sebagai checkpoint atau alat uji bagi pemerintah.
Jika seluruh indikator penunjang tersebut menunjukkan tren kenaikan, maka dipastikan pertumbuhan ekonomi memang sedang terjadi secara nyata di tengah masyarakat.
Untuk memastikan validitas data tersebut, Purbaya mengaku sering terjun langsung ke lapangan guna memantau aktivitas transaksi di berbagai pusat keramaian.
Kunjungan mandiri ini dilakukan di berbagai kota besar untuk melihat sejauh mana daya beli masyarakat bergerak di tingkat mal hingga pasar tradisional.
"Dan saya juga bisa saksikan, saya sering ke pasar, bukan mau jalan-jalan, saya cuma mau melihat belanjanya masyarakat gimana sih. Rame terus di mana-mana kok. Di Jogja rame, Surabaya rame, di Bandung rame, di Jakarta juga saya jalan-jalan ke mall rame, di pasar tradisional juga rame," kata Purbaya.
Terkait adanya keluhan mengenai tempat-tempat yang masih sepi, Purbaya menilai hal tersebut sangat tergantung pada perspektif pengambilan data di lapangan.
Dia memberikan ilustrasi bahwa jika seseorang sengaja mengambil sampel jika di sebuah lokasi pada jam dua dini hari, maka gambaran yang didapatkan tentu tidak bisa mewakili geliat ekonomi yang sesungguhnya.
Purbaya melanjutkan, pemulihan ekonomi nasional saat ini memang belum menyentuh level sempurna 100 persen. Indonesia baru saja melewati fase sulit dan sedang berada dalam tahap transisi untuk bangkit kembali, sehingga sebaran dampak ekonomi masih membutuhkan waktu untuk merata ke seluruh lapisan masyarakat.
"Ini kan kita baru mulai bangkit dari tahun yang lemas dan di tahun yang ke depan, perlu waktu untuk menyebar ke ekonomi secara merata," kata dia.
(Nur Ichsan Yuniarto)