AALI
12325
ABBA
196
ABDA
0
ABMM
3060
ACES
995
ACST
161
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
655
ADMF
8075
ADMG
180
ADRO
3150
AGAR
330
AGII
2010
AGRO
935
AGRO-R
0
AGRS
126
AHAP
62
AIMS
232
AIMS-W
0
AISA
157
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
925
AKRA
1005
AKSI
224
ALDO
900
ALKA
302
ALMI
280
ALTO
208
Market Watch
Last updated : 2022/05/23 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.20
-1.33%
-7.19
IHSG
6840.78
-1.12%
-77.37
LQ45
1002.57
-1.24%
-12.61
HSI
20470.06
-1.19%
-247.18
N225
27001.52
0.98%
+262.49
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,169 / gram

Menteri PPPA Sebut Partisipasi Perempuan dalam Ekonomi Digital Masih Rendah

ECONOMICS
Kevi Laras
Senin, 18 Oktober 2021 13:25 WIB
Pemanfaatan ekonomi digital dan inklusi keuangan menjadi tren global untuk mencapai tujuan pembangunan baik di negara maju maupun berkembang.
Partisipasi Perempuan dalam Ekonomi Digital Masih Rendah (Ilustrasi by Pexels)
Partisipasi Perempuan dalam Ekonomi Digital Masih Rendah (Ilustrasi by Pexels)

IDXChannel - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga menegaskan pentingnya meningkatkan ekonomi digital dan inklusi keuangan bagi perempuan untuk mendukung pemulihan ekonomi di negara-negara ASEAN pasca pandemi Covid-19.

"Saat ini, pemanfaatan ekonomi digital dan inklusi keuangan menjadi tren global untuk mencapai tujuan pembangunan baik di negara maju maupun berkembang. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia menetapkan ekonomi digital dan inklusi keuangan sebagai tema AMMW, terkait mendukung upaya pemulihan ekonomi di wilayah ASEAN pasca Covid-19,” ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip pada Senin (18/10/2021).

Sehubungan dengan ini, Bintang menjelaskan pemanfaatan ekonomi digital dan teknologi/aplikasi berpotensi meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing perempuan. Namun, faktanya partisipasi perempuan dalam ekonomi digital tergolong masih rendah, karena kurangnya keterampilan dan literasi digital yang mereka miliki.
 
“Rendahnya partisipasi perempuan dalam ekonomi digital, disebabkan karena adanya bias gender, kurangnya motivasi anak perempuan untuk mengambil pendidikan di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika), serta kurangnya minat mereka pada teknologi digital," jelasnya

Menteri Bintang menambahkan penyebab lainnya yaitu keterbatasan bagi perempuan dalam mengakses teknologi digital. Rendahnya pendapatan perempuan dibanding laki-laki, memperkecil peluang mereka untuk dapat membeli smartphone dan membayar tagihan internet demi mengakses teknologi digital.

“Sementara itu, dalam hal inklusi keuangan, diketahui bahwa rata-rata indeks inklusi keuangan perempuan di negara-negara ASEAN, 51 persen lebih kecil dibandingkan indeks inklusi keuangan perempuan dunia yaitu 65 persen (Survei Global Findex, The World Bank Group, 2017). Hal ini menunjukan bahwa hanya 51 persen perempuan dewasa ASEAN yang memiliki akses ke produk dan layanan keuangan, dan hampir setengahnya tidak termasuk dalam infrastruktur keuangan formal,” terang Menteri Bintang.

Pertemuan AMMW ke-4, dihadiri oleh Sekretaris Jenderal ASEAN, Dato Lim Jock Hoi; Ketua AMMW ke-3 dari Vietnam, Dao Ngoc Dung, Sekretaris Eksekutif UN ESCAP, Armida Alisjahbana, serta para Ketua Delegasi/Menteri perwakilan 10 negara ASEAN, yaitu Singapura, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam termasuk Indonesia yang menyampaikan kemajuan terkait program pemberdayaan dan perlindungan perempuan juga anak yang telah dilaksanakan di Negara masing-masing. (NDA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD