"Presiden Prabowo selalu menyampaikan bahwa kebijakannya melanjutkan prinsip 'seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak' sehingga pemerintah selalu menghormati komitmen investor baik di industri ekstraktif, manufaktur, hingga perbankan," ujar Hashim.
Hashim menjelaskan soal prinsip netralitas selama 75 tahun kedaulatan Indonesia membuat iklim investasi terbuka luas bagi korporasi dari Rusia, China, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, hingga Australia. Kepastian hukum ini menjamin Indonesia sebagai tempat yang aman untuk berbisnis dan menghasilkan keuntungan bagi sektor perbankan, barang konsumsi, hingga jasa keuangan.
Selain menjamin keamanan modal, Hashim mengajak industri manufaktur dan korporasi Thailand untuk memanfaatkan pasar karbon domestik. Fasilitas perdagangan karbon ini dibuka luas guna membantu entitas bisnis global memenuhi pemenuhan kredit offset emisi.
"Kami telah memulai pasar karbon sejak 9 Juli agar mereka yang perlu mengompensasi emisi dapat membeli kredit melalui pasar karbon Indonesia, dan hal ini tentu ditawarkan kepada perusahaan serta manufaktur Thailand," tutur Hashim.
Langkah penguatan bursa karbon tersebut didukung oleh pengesahan perundang-undangan iklim domestik serta keikutsertaan aktif Indonesia dalam forum COP31 Konferensi Para Pihak tentang Iklim.