Pemerintah mencatat adanya kenaikan volume konsumsi pada hampir seluruh jenis energi bersubsidi, mulai dari listrik, LPG, hingga BBM dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Suahasil menilai tren kenaikan ini bukan sekadar beban anggaran, melainkan indikator positif geliat ekonomi nasional.
“Kalau listrik bertambah berarti ada kegiatan ekonomi. LPG bertambah juga indikasi kegiatan ekonomi. BBM bertambah juga indikasi dari aktivitas ekonomi yang terus berjalan,” katanya.
Meski berkomitmen menjaga harga energi tetap terjangkau bagi masyarakat, pemerintah tetap mewaspadai berbagai faktor eksternal yang dapat menekan postur belanja. Fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (ICP), pergerakan nilai tukar rupiah, serta lonjakan volume konsumsi menjadi variabel utama yang terus dipantau secara intensif.
Langkah proaktif dalam penyelesaian utang kompensasi ini diharapkan dapat menjaga kesehatan arus kas BUMN energi, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap terjamin di tengah dinamika global.
(Febrina Ratna Iskana)