Pada saat yang sama, volume suplai rumah sekunder turun 0,5 persen secara bulanan dan stagnan secara tahunan. Dalam kondisi pasar seperti ini, pencari properti memiliki alasan lebih besar untuk membandingkan pilihan berdasarkan lokasi, harga, serta kebutuhan hidup jangka panjang, bukan semata-mata mengejar luas rumah atau harga terendah.
Tangerang masih menjadi kota dengan proporsi popularitas pencarian properti terbesar pada Agustus 2026, sebesar 14,6 persen. Jakarta Selatan berada di posisi berikutnya dengan 13,0 persen, disusul Jakarta Barat sebesar 10,4 persen. Data ini menunjukkan bahwa perhatian pencari properti masih terkonsentrasi pada sejumlah pasar utama di Jabodetabek.
“Bagi pelaku industri, data ini menjadi pengingat bahwa produk properti tidak cukup hanya menawarkan ruang yang lebih besar atau harga yang lebih rendah. Konsumen semakin ingin mengetahui konsekuensi nyata dari setiap pilihan lokasi. Karena itu, pengembang, pemilik properti, dan investor perlu membaca kebutuhan pasar secara lebih lokal dan lebih spesifik,” kata Firman.
(Dhera Arizona)