sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pengusaha Angkutan Sebut Penerapan B50 Berpotensi Tingkatkan Biaya Perawatan Mesin

Economics editor Iqbal Dwi Purnama
01/07/2026 07:33 WIB
Pelaku usaha angkutan belum siap menghadapi penerapan mandatori B50 karena armada yang ada tidak dirancang menggunakan BBM tersebut.
Pengusaha Angkutan Sebut Penerapan B50 Berpotensi Tingkatkan Biaya Perawatan Mesin. (Foto: iNews Media Group)
Pengusaha Angkutan Sebut Penerapan B50 Berpotensi Tingkatkan Biaya Perawatan Mesin. (Foto: iNews Media Group)

Menurut dia, penggunaan B50 berpotensi menimbulkan endapan (sludge) pada sistem mesin maupun penyumbatan pada sejumlah komponen kendaraan, sehingga operator harus mempercepat siklus penggantian filter bahan bakar. Kondisi tersebut dinilai akan meningkatkan biaya operasional armada.

"Karena itu kami harus berimprovisasi dalam operasional, salah satunya dengan memendekkan usia pakai filter solar. Konsekuensinya biaya operasional menjadi naik," tambahnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan bahan bakar B50 mulai diimplementasikan pada 1 Juli 2026. ESDM memastikan peningkatan kandungan FAME dari sebelumnya 40 persen menjadi 50 persen tidak mengubah harga jual biosolar yang selama ini berlaku. 

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaiman, mengatakan perbedaan utama antara B40 dan B50 hanya terletak pada peningkatan komposisi FAME menjadi 50 persen. Sementara itu, skema penetapan harga belum mengalami perubahan.

Meski peluncuran BBM jenis baru B50 ini direncanakan pada 1 Juli 2026, implementasinya akan melalui masa transisi selama tiga bulan agar sisa stok B40 di lapangan dapat dihabiskan terlebih dahulu.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement