AALI
8425
ABBA
540
ABDA
0
ABMM
1250
ACES
1310
ACST
246
ACST-R
0
ADES
2720
ADHI
885
ADMF
7675
ADMG
218
ADRO
1400
AGAR
368
AGII
1395
AGRO
2300
AGRO-R
0
AGRS
246
AHAP
68
AIMS
342
AIMS-W
0
AISA
204
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
3990
AKSI
422
ALDO
715
ALKA
292
ALMI
238
ALTO
320
Market Watch
Last updated : 2021/09/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
458.78
1.26%
+5.72
IHSG
6108.27
0.78%
+47.51
LQ45
862.18
1.23%
+10.45
HSI
24221.54
0.51%
+122.40
N225
29639.40
-0.67%
-200.31
NYSE
16184.50
0.1%
+16.33
Kurs
HKD/IDR 1,827
USD/IDR 14,240
Emas
814,120 / gram

Perbankan Belum Turunkan Bunga Kredit, BI Sebut Bank Cari Untung Besar

ECONOMICS
Hafid Fuad/Koran Sindo
Senin, 22 Februari 2021 18:17 WIB
Data Bank Indonesia menunjukkan, sejak Juni 2019 perbankan sangat responsif ikut menurunkan bunga deposito hingga 225 basis poin mengikuti kebijakan BI
Perbankan Belum Turunkan Bunga Kredit, BI Sebut Bank Cari Untung Besar (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Di saat Bank Indonesia (BI) sudah habis-habisan mencurahkan berbagai keringanan demi mendorong perekonomian berputar, namun seolah ada yang menusuk dari belakang yaitu perbankan. Karena dari sisi suku bunga kredit, bank tidak melangkah bersama dengan penurunan suku bunga acuan BI yang terus turun habis-habisan. 

Data Bank Indonesia menunjukkan, sejak Juni 2019 perbankan sangat responsif ikut menurunkan bunga deposito hingga 225 basis poin mengikuti kebijakan BI. Tapi tidak dengan suku bunga kreditnya yang hanya bergerak merayap pelan. 

Ini ironis mengingat usaha totalitas BI yang terus mencoba memberikan berbagai stimulus dari baik dari sisi supply dan demand.  

"Kalau dilihat secara jangka panjang suku bunga BI turun selalu diikuti suku bunga deposito. Penurunannya 225 basis poin sejak Juni 2019. Penurunan deposito selalu hampir sama dengan BI dan sangat responsif. Tapi suku bunga kreditnya sangat rigid dan spread meningkat mengalami pelebaran. Ini artinya bank coba cari keuntungan besar saat seperti ini," ujar Asisten Gubernur Bank Indonenesia bidang Stabilitas Sistem Keuangan dan Kebijakan Makroprudensial Juda Agung dalam sesi webinar di Jakarta, Senin (22/2/2021). 

Sebagai informasi, penurunan suku bunga kredit bank masih terbatas, atau hanya sebesar 83 bps ke level 9,70% selama tahun 2020. 

Maka dari itu, dia meminta para bank untuk bisa menyesuaikan suku bunga kreditnya. Sebab, dengan masih tingginya bunga kredit maka tidak maksimal mendorong perekonomian berputar. 

"Dengan suku bunga turun harusnya mendorong ekonomi segera pulih, tapi justru spreadnya naik. Ini jadi salah satu faktor orang masih ragu-ragu untuk meminta kredit dari bank karena suku bunganya masih cukup tinggi," ujar dia. 

Kebijakan BI terbaru ingin mendorong minat belanja masyarakat khususnya di sektor properti dan otomotif. BI melonggarkan ketentuan Uang Muka Kredit/Pembiayaan Kendaraan Bermotor menjadi paling sedikit 0 persen untuk semua jenis kendaraaan bermotor baru. Ini berlaku efektif 1 Maret 2021 sampai dengan 31 Desember 2021. 

BI juga melonggarkan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) Kredit/Pembiayaan Properti menjadi paling tinggi 100 persen untuk semua jenis properti (rumah tapak, rumah susun, serta ruko/rukan), bagi bank yang memenuhi kriteria NPL/NPF tertentu, dan menghapus ketentuan pencairan bertahap properti inden untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor properti. Ini akan berlaku efektif 1 Maret 2021 sampai dengan 31 Desember 2021. (Sandy)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD