Secara kuartalan yang disesuaikan secara musiman, ekonomi mengalami kontraksi 0,3 persen pada triwulan lalu, berbalik dari ekspansi 1,3 persen pada kuartal IV-2025.
Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong, yang juga menjabat sebagai menteri perdagangan dan industri, mengatakan pekan lalu bahwa perang di Iran kemungkinan akan memperlambat aktivitas ekonomi dan mendorong kenaikan harga.
Perusahaan manufaktur yang bergantung pada gas alam, minyak mentah, dan produk turunan minyak mentah akan lebih terpengaruh, bersama dengan industri yang intensif energi seperti elektronik dan teknik presisi.
Biaya yang lebih tinggi dan permintaan yang lebih lemah juga akan berdampak pada transportasi udara dan laut serta pariwisata, sementara sektor yang berfokus pada pasar domestik juga akan mengalami peningkatan biaya operasional. (Wahyu Dwi Anggoro)