“Oh itu kan zaman dulu, cost overrun tinggi waktu ngebangun kan dulu. Setelah dikasih ke China, ada perusahaan di sini sama China bekerja sama itu ya domestik sama ini, manajemennya sempat berpasangan pada waktu itu. Sehingga pada satu titik orangnya datang ke saya, CEO Whoosh-nya yang dari Cina itu bilang, waktu itu ya sekarang sudah diselesaikan, dulu enggak ada kemajuan katanya. Sudah berapa tahun, 2 tahun, 1 tahun, 2 tahun lahan yang dibebaskan baru 4 kilometer pada waktu itu,” jelasnya.
Menurutnya, persoalan koordinasi antarinstansi sempat memicu kebuntuan, namun ke depan pemerintah akan memperketat pengawasan proyek strategis agar tidak terulang kembali.
Terkait pengumuman resmi, Purbaya menyebut keterlibatan pihak China bersifat fleksibel dan bergantung pada keputusan pemerintah Indonesia.
“Bisa iya bisa nggak juga. Kan kita yg nentuin. Mereka tinggal menikmati. Sama-samalah dia juga invest di sini kan. Ketika ada loss, perusahaan Cina juga loss kan. Kita berapa persen, dia berapa persen bayarnya gitu kan. Jadi sama-sama agak menderita lah,” pungkasnya.
(Shifa Nurhaliza Putri)