sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

RI Kekurangan 15-20 Persen Sopir Truk Kompeten

Economics editor Dovana Hasiana/MPI
29/03/2023 12:40 WIB
Indonesia disebut masih kekurangan sekitar 15-20% pengemudi truk kompeten yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap yang mumpuni.
RI Kekurangan 15-20 Persen Sopir Truk Kompeten. (Foto MNC Media)
RI Kekurangan 15-20 Persen Sopir Truk Kompeten. (Foto MNC Media)

IDXChannel - Indonesia merupakan salah satu negara dengan angkatan kerja yang melimpah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2022 sebanyak 143,72 juta orang, naik 3,57 juta orang dibanding Agustus 2021.

Di antara jumlah angkatan kerja yang melimpah, Indonesia disebut masih kekurangan sekitar 15-20% pengemudi truk kompeten yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap yang mumpuni.

“Artinya, bila satu perusahaan memiliki 100 truk, antara 15-20 unit akan menganggur setiap bulannya karena tidak ada sopir yang kompeten,” ujar Ketua Kompartemen Pendidikan dan Pelatihan Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) Johannes Samsi Purba dalam program Market Review IDX Channel, Jakarta, Rabu (29/3/2023). 

Johannes mengatakan, pemerintah perlu bertindak cepat untuk menindaklanjuti kekurangan tersebut lantaran akan memberikan efek domino ke berbagai hal. Pertama, tenaga kerja asing (TKA) akan menggunakan kesempatan ini untuk mengisi kekosongan, sehingga berpotensi meningkatkan angka pengangguran.

Kedua, kekosongan pengemudi truk kompeten akan berpengaruh kepada distribusi barang. Bila distribusi tidak diatur secara maksimal, tentunya akan menurunkan akses masyarakat untuk mendapatkan barang dan pada akhirnya meningkatkan harga.

“Bila distribusi terhambat, pasti akan menyebabkan inflasi. Ini perlu dicermati,” imbuhnya.  

Pemerintah pun dinilai perlu untuk menciptakan ekosistem pengemudi truk sebagai pekerjaan profesional lantaran masih banyaknya masyarakat yang belum yakin dengan profesi tersebut bila dilihat melalui aspek sosial dan ekonomi.

“Artinya banyak yang meragukan profesi tersebut. Mereka tidak yakin apakah gaji tersebut cukup untuk menghidupi keluarganya. Perlu dibangun ekosistem atau lingkungan kerja yang profesional, karena mereka garda terdepan distribusi,” pungkasnya.

(YNA)

Halaman : 1 2
Berita Rekomendasi

Berita Terkait
Advertisement
Advertisement